Jum'at, 18 April 2014 RSS Feed Videos Photos ePaper English Version

Menyulap kayu bekas jadi barang berkelas

Editor   -   Sabtu, 24 September 2011, 08:01 WIB

BERITA TERKAIT

Penggunaan kayu bekas untuk diolah kembali menjadi furnitur bernilai jual tinggi memang sudah tak asing lagi bagi perajin mebel di Jepara.

Melambungnya harga kayu serta kekhawatiran mengenai isu ilegal loging menjadi alasan mengapa para perajin itu kini justru memilih kayu bekas bongkaran rumah, bekas kapal dan furnitur tua untuk dijadikan bahan baku produknya.Dwi Tunggak Semi misalnya, memanfaatkan papan-papan bekas kapal yang disulap menjadi berbagai furnitur dengan desain yang menarik dan bernilai jual tinggi. Usaha yang ditekuninya selama 5 tahun terakhir itu berawal dari memburuknya pasar ekspor pascakrisis ekonomi 1998 disusul kemudian krisis keuangan global 2008.Semula Dwi memproduksi mebel khusus untuk taman yang diekspor ke beberapa negara di Eropa dan Amerika, tetapi karena permintaan terus menurun sehingga biaya pengiriman menjadi mahal yang pada akhirnya menjadi tak sebanding dengan keuntungan yang didapat.“Kalau kirim barang dengan jumlah yang kecil, biaya menjadi mahal karena barang yang dijual keuntungannya juga sedikit, sementara permintaan ekspor terus menurun. Di sisi lain, harga kayu dalam negeri terus melambung, akhirnya saya memilih untuk memproduksi mebel dengan kayu bekas,” katanya kepada Bisnis, hari ini.Harga bahan baku dari kayu bekas ini juga jauh lebih murah bahkan bisa sepertiga dibandingkan dengan kayu baru. Kayu bekas itu diperolehnya dari pengepul di beberapa daerah sekitar seperti Demak, Kudus, Juwana dan Pati yang rata-rata memiliki wilayah pesisir di sepanjang Pantai Utara Jawa.“Ada yang memang dibiarkan seperti warna aslinya yaitu kayu tua dengan paduan warna-warna kayu lainnya sehingga nampak natural, ada juga yang dipoles sehingga warna kayu menjadi sama,” ujarnya.Meski kayu bekas, Dwi tidak asal membeli tetap harus melewati seleksi dengan memperhatikan kualitas kayu tersebut.Berkat usaha dan keuletannya, Dwi kini dapat meraup omzet sekitar Rp50 juta-Rp75 juta setiap bulannya.  Yang terpenting menurut dia yaitu bisa menciptakan lapangan kerja lebih banyak, jumlah karyawannya saat ini mencapai 20 orang, sementara jumkah pengepulnya sebanyak 25 orang.Hasil produksinya saat ini dipasarkan di hampir semua daerah di Tanah Air, seperti Sumatra, Kalimantan, Bali dan Jawa. Ke depan Dwi akan mencoba peruntungannya kembali dengan menggiatkan kembali ekspor mebelnya ke sejumlah negara di Timur Tengah dan Eropa, untuk saat ini masih fokus menggarap pasar dalam negeri.Pengusaha mebel dengan memanfaat kayu bekas lainnya adalah Yoga Suratmoko, pemilik Nugraha Furniture yang berada dibilangan Kalimalang Jakarta Timur. Yoga begitu dia disapa mulai melirik potensi sisa kayu bekas untuk dijadikan sebuah furnitur ketika dirinya bekerja di pabrik kayu jati.Setiap hari ia melihat limbah kayu tersebut dibuang begitu saja. Dari situlah, Yoga mulai berpikiran bagaimana caranya supaya kayu bekas tersebut tidak terbuang sia-sia namun justru dapat dipergunakan kembali sehingga memiliki nilai jual yang tinggi.Dengan kemampuannya membuat desain furnitur perlengkapan rumah itulah Yoga pun mulai mengkreasikan sisa limbah kayu yang dimilikinya menjadi sebuah meja rias. Tak disangka hasil kreasinya tersebut mampu menarik perhatian para tetangga di sekitar rumahnya.“Saya itu suka buat peralatan rumah tangga seperti buat kursi, meja dan sebagainya. Ketika lihat limbah kayu ini pikiran saya langsung ingin buat meja rias dan ternyata banyak tetangga saya yang suka dengan daya kreasi saya” tuturnya.Bermula dari hal itulah akhirnya pada tahun 2002 Yoga memberanikan diri membuka usaha furnitur dari limbah kayu bekas pakai dengan modal sebesar Rp70 juta. Modal yang dikeluarkannya tersebut pun sudah termasuk dengan pengeluaran untuk menyewa sebuah kios dan membeli bahan baku limbah kayu.Selain menerima gambar rancangan dari para pelanggan dia juga menyediakan contoh desain untuk para konsumen. Untuk harga produk furniture yang ditawarkan di tempatnya Yoga mengaku sangat bersaing. “Harganya beragam mulai dari Rp100.000 hingga jutaan rupiah tergantung model, ukuran yang dipesan serta tingkat kesulitan” katanya.Pelanggan furnitur kayu bekas peti kemas Yoga pun tak hanya berasal dari Indonesia hingga kini produknya pun sudah di ekspor ke beberapa negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei.“Awalnya pelanggan kami hanya berasal dari pasar domestik di pulau Jawa, Sumatra dan Bali tetapi belakangan furnitur yang terbuat dari kayu jati Belanda ini cukup banyak menyedot perhatian konsumen dari luar negri” katanya.Tak heran jika kini omset yang didapatkannya dari penjualan produk funitur ini dapat mencapai hingga Rp120 juta per bulan. Dari omzet yang didapatkannya tersebut Yoga mengaku mampu mengantongi keuntungan hingga 60%. Berkat keuletannya tersebut kini Yoga pun telah memiliki dua showroom yang masing-masing berlokasi di Kalimalang dan Jatiasih.(api) 


Source : Natalina Kasih Wasiyati & Mardiyah Nugrahani

Editor :

 

Bisnis Indonesia Writing Contest berhadiah utama Mobil Daihatsu Ayla mulai menayangkan tulisan peserta 1 April 2014. Ayo “Vote & Share” sebanyak-banyaknya DI SINI.

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.