Senin, 22 September 2014 RSS Feed Bisnis TV Photos ePaper Indonesia Business Daily

Review Transportasi: Pasang kuda-kuda

Editor   -   Selasa, 01 November 2011, 14:58 WIB

BERITA TERKAIT

 

JAKARTA: Kinerja sektor transportasi terakhir ini cukup agresif dengan pergerakan pertumbuhan armada pada angkutan udara dan kapal laut seolah pasang kuda-kuda untuk menangkap peluang ke depan.
 
Dua maskapai besar berlomba-lomba mendatangkan pesawat baru untuk memenuhi ketentuan kepemilikan armada yang diwajibkan minimal 5 unit dimiliki dan 5 unit disewa per 2012. 
 
Maskapai juga berpacu menggenjot pelayanannya untuk mendongkrak tingkat keterisian (load factor) dengan menawarkan armada berfasilitas lengkap. 
 
Pemerintah ikut meramaikan sektor ini dengan menginisiasi sejumlah regulasi baru, a.l. asuransi delay pesawat kini tengah dalam pembahasan antara Kementerian Perhubungan dan asosiasi maskapai, Indonesia National Air Carriers Association (Inaca).
 
Di sisi lain, armada laut juga ikut tumbuh secara pelan tetapi pasti untuk menjawab kebutuhan angkutan dalam negeri sesuai azas cabotage. 
 
Ke depan, Kemenhub juga mengisyaratkan ketentuan seluruh hasil bumi tujuan ekspor akan diwajibkan diangkut oleh kapal berbendera Indonesia sehingga masih dibutuhkan armada kapal laut baru.
 
Sementara transportasi global mewarnai penghujung Oktober dengan aksi mogok karyawan Qantas Airways di seluruh rute yang dilayaninya karena persoalan hubungan industrial yang tak kunjung tuntas antara perusahaan dengan karyawannya.
 
 
Pesawat baru
Pada 2012, UU Penerbangan mengamanatkan maskapai wajib mengoperasikan 10 pesawat dengan 5 unit berstatus milik dan 5 unit sewa. Kendati sejumlah maskapai besar telah mengoperasikan puluhan pesawat, aturan itu dinilai masih perlu dilonggarkan terkait persyaratan pembuktian pembelian pesawat.
 
Sementara itu, PT Garuda Indonesia Tbk menerima pesawat B737-800 Next Generation ke-48 bulan ini. Ini merupakan Boeing 737 yang ke-123 yang dioperasikan maskapai penerbangan itu. Hingga 2015, Garuda akan menambah armada hingga total berjumlah menjadi 154 pesawat.
 
Kompetitor ketatnya, Lion Air, pun ikut agresif menambah armada. Maskapai ini menerima Boeing 737-900ER ke-50 dari total 178 pesawat yang dipesan Lion ke Boeing.
 
Di sisi lain, Merpati Airline percaya diri dengan armada buatan China dengan mendatangkan 15 unit Modern Ark (MA)-60 untuk melayani rute-rute komersialnya.
 
 
Dongkrak pelayanan
Selain agresif menambah armada, sektor penerbangan juga diwarnai kompetisi dua pemain besar di rute domestik dalam hal peningkatan pelayanan dan fasilitas bagi penumpang.
 
Lion Air pasang kuda-kuda untuk memasuki pasar kelas atas pada segmen layanan penuh (full service) dan layanan khusus (privat business jet service) tahun depan.
 
Presiden Direktur Lion Air Rusdi Kirana bahkan sudah membentuk anak usaha yang akan mengelola dua segmen baru tersebut, yakni PT Space Aviation Service (Space Air) yang masih dalam proses perizinan operasi di Kemenhub.
 
Sementara Garuda mengandalkan desain baru berasa Indonesia, diskon khusus untuk kalangan tertentu seperti staf kedutaan dan pelaku usaha mikro/kecil menengah, hingga tawaran layanan internet di dalam penerbangan tahun depan.
 
Di segmen low service, sejumlah penerbangan berekspansi dengan penambahan rute baru, seperti yang dilakukan Kalstar Aviation yang menerbangi Jakarta ke kota-kota besar di Kalimantan.
 
 
Armada kapal
Sementara itu, sektor angkutan laut diperkirakan masih membutuhkan tambahan 5.000 unit kapal per tahun guna mempercepat revitalisasi armada sekaligus memutus ketergantungan terhadap kapal berbendera asing.
 
PT Wintermar Offshore Marine Tbk, adalah salah satu operator pelayaran yang cukup giat menambah kapal dengan mendatangkan sedikitnya 10 unit kapal baru. 
 
Selain pengadaan kapal oleh Wintermar dan revitalisasi, distribusi dan logistik membutuhkan jenis kapal angkutan barang untuk rute-rute pendek seperti ro-ro ukuran besar dan kecil, containers barge, container ship, serta kapal curah.
 
Program revitalisasi armada tersebut sebenarnya juga tengah berharap-harap cemas karena sedang diupayakan masuk dalam Cetak Biru Sistem Logistik Nasional serta dalam program MP3EI.
 
Ketua Umum Indonesian National Shipowners Association (INSA) Carmelita Hartoto mengatakan saat ini jumlah kapal niaga nasional sudah mencapai hampir 11.000 unit.
 
Dengan jumlah itu, dia memperkirakan kapasitas kapal berbendera Merah Putih mencapai 17 juta dead weight tonnage (DWT). 
 
 
Defisit tenaga kerja 
Di sisi lain, praktisi di sektor transportasi khususnya angkutan udara juga menjadi isu ketika pertumbuhan industri ini terus menunjukkan tren positif.
 
Sektor penerbangan di Tanah Air bakal defisit tenaga teknisi pesawat udara yang diperkirakan mencapai 7.500 orang dalam 2 tahun ke depan. Sedangkan kebutuhan pilot mencapai 800 orang per tahun. Tidak mustahil, pilot-pilot asing ikut meramaikan bursa karyawan aviasi.
 
Kondisi ini juga berimbas pada level kesejahteraan karyawan yang sempat memicu konflik di Garuda. Kendati sempat mengancam mogok terbang, isu ini masih sempat diredam.
 
Berbeda dengan Qantas Airways yang menutup penghujung Oktober dengan aksi mogok yang menyebabkan seluruh penerbangan grounded. Sedikitnya 36 penerbangan internasional dan 28 penerbangan domestik di Australia yang sedang di udara saat keputusan mogok ditetapkan.
 
Pada pertengahan Oktober, Qantas juga menggrounded lima jet dan mengurangi penerbangan domestik hampir 100 flight seminggu karena mekanik pesawat mengurangi jam kerja.
 
Qantas meresahkan serikat karyawan pada Agustus menyusul rencana restrukturisasi lima dengan membangun basis baru di Asia dengan konsekuensi pemangkasan 1.000 karyawan. (arh)

Source : Aprika R. Hernanda

Editor :

Ikuti berita Bisnis.com melalui smartphone Android dengan aplikasi Android Apps Bisnis.com. Download di Google Play!
 
Berlangganan ePaper Bisnis dan Indonesia Business Daily bisa dengan PayPal. Klik disini!
Reader's Choice: Pilih Topik menarik untuk Diulas oleh Harian Bisnis Indonesia. Klik disini!

Layak Disimak

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.