Kamis, 23 Oktober 2014 RSS Feed Bisnis TV Photos ePaper Indonesia Business Daily

MUDIK LEBARAN: Fly Over Kelok 9 Diuji-coba Agustus

Editor   -   Minggu, 22 Juli 2012, 08:15 WIB

BERITA TERKAIT

PADANG: Pemprov Sumatra Barat menjadwalkan operasional (uji coba) tahap I Fly Over Kelok 9 di daerah Pangkalan, Kabupaten Limapuluh Kota pada Agustus 2012.“5 Agustus nanti (2012), tahap I dari mega proyek jembatan layang ini mulai beroperasi,” kata Suprapto, Kepala Dinas Prasarana Jalan dan Tata Ruang Pemukiman Sumbar.Ujicoba operasional ini, ucapnya, bertujuan antisipasi kemacetan di lokasi, terutama saat masa mudik lebaran di jalur transportasi Sumbar – Riau tersebut.Namun, jembatan layang ini hanya dibuka satu jalur (satu arah) yakni; melayani kendaraan dari Sumbar menuju Riau, sedang sebaliknya tidak.“Kendaraan dari Riau - Sumbar, masih harus menggunakan (melewati) jalan lama di bawah jembatan layang,” katanya.Kendaraan dari arah Payakumbuh bisa langsung mengakses jalan baru di KM 146.500 (setelah Lubuk Bangku), yang terhubung ke jembatan 3, dan menuju jembatan 6 pada KM 147.560.“Pembukaan jembatan layang tahap I hanya berlangsung sepanjang musim lebaran saja, dan kalau dianggap jalur sudah berkurang (tidak padat lagi) akan tutup kembali,” katanya.Pasalnya, terang Suprapto, peresmiannya operasionalnya nanti akan disamakan dengan tahap II, yang dijadwalkan pada akhir tahun ini.Dalam pelaksanaan operasional di Agustus nanti, terang Suprapto, pengguna jembatan layang kelok sembilan dilarang keras untuk berhenti di atas jembatan.“Sebab, jalur tersebut merupakan jalur cepat,” katanyaMega proyek Fly Over Kelok Sembilan dilakukan dalam dua tahap pengerjaan, a,l Tahap I Rp350 miliar untuk pengerjaan 4 buah jembatan dengan total panjang 720 meter dan jalan 2.000 meter.Sedangkan tahap II Rp180 miliar, untuk pembangunan jembatan layang sepanjang 250 meter dan ruas jalan sepanjang 1.000 meter.“Jalan itu nantinya, dibuatkan jadi dua line (arah),” katanya.Pembangunan jalan dan jembatan layang ini dilakukan bertahap sejak tahun 2003, dengan pengalokasian dana mega proyek murni dari APBN.“Dari sisi pembangunan, memang terlihat agak lambat, ini dikarenakan pengalokasian dana yang selalu sedikit pada setiap tahun anggaran di APBN,” ujar Suprapto.Fly Over Kelok 9 berbentuk melengkung panjang dan tajam, berdiri di atas pilar-pilar setinggi 50 - 80 meter, serta memiliki 6 jembatan layang dengan total panjang 940 meter, plus jalan penghubung 3.500 meter.Jumlah kelok (tikungan) sebanyak sembilan buah tetap dilakukan, upaya tidak mengubah citra lama yang sudah ada."Bedanya, dulu keloknya sempit, sedangkan pada desain baru (mega proyek) keloknya lebih luas,” kata Suprapto.Selain itu, untuk pengamanan pengendara yang melintas, jalan tersebut juga dilengkapi dinding pengaman setinggi 1,5 meter dari dasar jalan.Pengerjaaan mega proyek ini juga melibatkan tenaga kerja sebanyak 200 orang, dikerjakan PT Waskita Karya, Adhi Karya dan Hutama Karya dan JO.Kelok sembilan berlokasi sekitar 147 kilometer dari Kota Padang atau 25 kilometer dari Kota Payakumbuh, dan merupakan jalan lintas tengah Sumatra yang menghubungkan Sumatra Barat dengan Riau.Lokasi ini juga merupakan jalur ekonomi ke dua daerah yakni Sumbar dan Riau, terutama bagi pedagang dari Riau untuk membeli konveksi di Kota Bukittinggi dan Padang.“Kelok sembilan termasuk jalur padat yang dilalui 6.800 kendaraan per hari, bahkan melonjak hingga 11.350 unit kendaraan di hari libur,” kata Suprapto.(K41/faa)


Source : JIBI

Editor :

Ikuti berita Bisnis.com melalui smartphone Android dengan aplikasi Android Apps Bisnis.com. Download di Google Play!
 
Beli Buku, Data, ePaper, Indonesia Business Daily bisa dengan kartu kredit. Klik di sini!
Reader's Choice: Pilih Topik menarik untuk Diulas oleh Harian Bisnis Indonesia. Klik di sini!

Layak Disimak

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.