Kamis, 23 Oktober 2014 RSS Feed Bisnis TV Photos ePaper Indonesia Business Daily

SAPI: Pemerintah Diminta Lebih Cermat Hitung Kebutuhan Daging

Yeni H. Simanjuntak   -   Jum'at, 23 November 2012, 18:18 WIB

BERITA TERKAIT

JAKARTA: Pebisnis daging meminta pemerintah lebih cermat dalam menghitung kebutuhan daging sapi di dalam negeri pada tahun depan, agar tidak lagi terjadi lonjakan harga seperti tahun ini.Direktur Eksekutif Asosiasi Produsen Daging dan Feedlot Indonesia (Apfindo) Joni Liano mengatakan berdasarkan hasil sensus Badan Pusat Statistik populasi sapi di dalam negeri sebanyak 14,5 juta ekor, atau sudah mampu mencukupi kebutuhan konsumsi daging nasional.Namun, dari total populasi sapi itu tidak dapat seluruhnya sapi dipotong, karena komposisi sapi beragam, yaitu anak, muda, dewasa, jantan, dan betina.Padahal, sapi yang siap dipotong adalah sapi jantan muda dan dewasa yang berumur lebih dari dua tahun dan sapi betina yang sudah tidak produktif (apkir) yang berusia lebih dari delapan tahun."Pada tahun depan kekurangan pasokan daging 118.000 ton yang harus diimpor. Apalagi, jumlah sapi jantan di atas 2 tahun pada 2013 hanya 1,6 juta ekor, sedangkan kebutuhan sapi potong sekitar 3,1 juta ekor. Ini yang harus dikawal bersama-sama," ujarnya saat  acara Saresehan Kebutuhan Daging 2012, Jumat (23/11/2012).Sementara itu, pemerintah memprediksikan impor daging sapi pada tahun depan sebanyak 75.000 ton, turun dibandingkan dengan alokasi tahun ini sebanyak 92.000 ton.Beberapa hal yang telah disepakati oleh pemerintah dan pelaku usaha dalam menghitung konsumsi daging 2013, yaitu asumsi peningkatan jumlah penduduk 1,5%, peningkatan konsumsi dari 2,0 kg per kapita per tahun menjadi 2,2 kg dan asumsi setiap ekor sapi menghasilkan 170 kg daging. Oleh karena itu, kebutuhan daging sapi pada tahun depan sebanyak 550.000 ton.Sementara itu, berdasarkan potensi sapi di dalam negeri yang siap dipotong menghasilkan 431.000 ton, sehingga masih kekurangan 118.000 ton yang harus diimpor. "Ini riil angka dari pemerintah. Namun, pemerintah ingin hanya 13,5%. Semua perlu mengawal ini dan saling membuka diri."Menurutnya, kekurangan daging pada tahun depan 118.000 ton atau 21,5% dari total kebutuhan 550.000 ton. Pemerintah berkeinginan impor daging tahun depan 13,5% atau 75.000 ton.Dia menuturkan populasi sapi di dalam negeri yang siap dipotong sebanyak 3,1 juta ekor, tetapi dengan asumsi sapi tersebut tersebar di seluruh daerah, dikelola oleh peternak kecil, maka ada angka koreksi, sehingga sapi yang benar-benar siap dipotong hanya 80% atau 2,5 juta ekor. Di sisi lain, sapi jantan yang siap dipotong hanya 1,6 juta ekor.

Oleh karena itu, dipastikan sapi betina produktif yang dipotong akan semakin banyak, sehingga mengancam keberlanjutan swasembada daging sapi. "Hitung konsumsi sama, kebutuhan populsi sapi jantan 3,1 jt dibutuhan, tetapi cuma tersedia 1,6 juta ekor."Hal senada disampaikan Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Importir Daging Indonesia (Aspidi) Thomas Sembiring, mengatakan  dalam pertemuan rapat koordinasi di bawah Menko Perekonomian dalam memutuskan kuota impor daging 2013, maka perlu masukan soal potensi sapi di dalam negeri yang siap potong, sehingga diputuskan angka yang tepat.Menurutnya, pemerintah harus melihat struktur populasi sapi di dalam negeri secara cermat, yaitu angka riil sapi yang siap dipotong serta mempertimbangkan psikologis peternak tradisional di dalam negeri."Peternak tradisional tidak dapat dipastikan kapan melepas sapi miliknya. Ini yang harus menjadi salah satu pertimbangan."Wakil Sekjen Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Satria Hamid mengatakan dengan naiknya harga daging tidak serta merta membuat konsumen beralih ke sumber protein hewani lainnya."Justru kami dikomplain kenapa harga melambung dan kualitas tidak baik, dipaksa ambil dari lokal yang cenderung tidak bisa dari sisi kontinuitas. Kondisi saat ini sangat sangat memprihatinkan, harga melambung."Dia menuturkan kebutuhan daging sapi oleh supermarket dan hipermarket di DKI Jakarta pada tahun ini sebanyak 12.700 ton per tahun terdiri dari hipermarket 6.500 ton dan supermarket 6.700 ton. (bas) 


Editor : Aang Ananda Suherman

Ikuti berita Bisnis.com melalui smartphone Android dengan aplikasi Android Apps Bisnis.com. Download di Google Play!
 
Beli Buku, Data, ePaper, Indonesia Business Daily bisa dengan kartu kredit. Klik di sini!
Reader's Choice: Pilih Topik menarik untuk Diulas oleh Harian Bisnis Indonesia. Klik di sini!

Layak Disimak

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.