Kamis, 27 November 2014 RSS Feed Bisnis TV Photos ePaper Indonesia Business Daily

LITBANG INDUSTRI Belum Bisa Ikuti Pertumbuhan

Christine Franciska   -   Selasa, 09 April 2013, 14:34 WIB

BERITA TERKAIT

BISNIS.COM, JAKARTA—Pengembangan riset dan teknologi diharapkan dapat memacu daya saing produk industri di Indonesia. Sayangnya, hingga saat ini hasil litbang belum mampu menyokong pertumbuhan industri yang cemakin cepat.

Kepala Badan Pengkajian Kebijakan Iklim dan Mutu Industri (BPKIMI) Kementerian Perindustrian, Arryanto Sagala, mengatakan industri dalam negeri saat ini harus dapat menjawab kebutuhan masyarakat kian kompleks. Litbang, sayangnya, belum bisa mengejar pertumbuhan itu. Apalagi, jika dihadapkan dengan persaingan produk-produk impor kian sengit.

"Karena itu, litbang harus cepat menyongsong industri. Jangan sampai beda jalur. Karena daya saing industri itu salah satunya ditentukan oleh penyerapan teknologi dan kemampuan berinovasi," jelasnya hari ini, Selasa (9/4/2013)

Menjawab tantangan tersebut, Arryanto mengatakan, litbang harus peka dengan kebutuhan industri. "Apa yang menjadi masalah dalam industri tekstil, keramik, dan makanan misalnya harus dapat dijawab oleh litbang."

Sebagai langkah nyata, pada Selasa (9/4/2013), BPKIMI menggelar pameran hasil litbang industri di Gedung Kementerian Perindustrian, Jakarta. Pameran yang berlangsung hingga 12 April mendatang ini diikuti oleh 44 peserta dari Balai Besar dan Balai Riset dan Standarisasi Industri yang tersebar di wilayah Indonesia.


Editor : Sutarno

Ikuti berita Bisnis.com melalui smartphone Android dengan aplikasi Android Apps Bisnis.com. Download di Google Play!
 
Beli Buku, Data, ePaper, Indonesia Business Daily bisa dengan kartu kredit. Klik di sini!
Reader's Choice: Pilih Topik menarik untuk Diulas oleh Harian Bisnis Indonesia. Klik di sini!

Layak Disimak

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.