Senin, 15 September 2014 RSS Feed Bisnis TV Photos ePaper Indonesia Business Daily

PRODUKSI BATU BARA: Permintaan Meningkat, Diprediksi Capai 400 Juta Ton

Ismail Fahmi   -   Senin, 15 April 2013, 18:55 WIB

BERITA TERKAIT

BISNIS.COM, JAKARTA--Produksi batu bara nasional sepanjang 2013 diprediksi akan melampaui 400 juta ton. Hingga kuartal-1 2013 saja, produksi baru bara nasional telah mencapai 93 juta ton.

Ketua Asosiasi Pengusaha Batu Bara Indonesia (APBI) Bob Kamandanu mengatakan peningkatan produksi batu bara nasional disebabkan peningkatan permintaan dari Jepang, Korea Selatan, Thailand dan Taiwan. Pasalnya, perkembangan ekonomi negara tersebut tengah mengalami kemajuan yang pesat dibandingkan negara lainnya.

"Produksi batu bara dengan kualitas rendah (low rank coal) saja tumbuh sekitar 20%. Ini karena tumbuhnya kebutuhan low rank coal untuk pembangkit listrik di dalam negeri," katanya di Jakarta, Senin (15/4).

Bob mengungkapkan saat ini memang komposisi batu bara kualitas rendah telah menyamai produksi batu bara kualitas tinggi. Karenanya, dirinya optimistis produksi batu bara nasional dapat menembus 400 juta ton sepanjang 2013, lebih tinggi 4,4% jika dibandingkan dengan realisasi produksi batu bara 2012 yang mencapai 383 juta ton.

Penurunan produksi yang dilakukan perusahaan batu bara berskala kecil, lanjut Bob, tidak akan mempengaruhi produksi batu bara secara nasional.
Apalagi, saat ini pemerintah tidak memasukan batu bara asal Kalimantan Selatan dalam rencana produksinya tahun ini.

Tidak dimasukkannya produksi batu bara dari Kalimantan Selatan itu mengakibatkan perbedaan catatan produksi batu bara yang dimiliki APBI dengan catatan pemerintah. Pemerintah sendiri mencatat realisasi produksi kuartal-1
2013 sekitar 99 juta ton dan produksi sepanjang tahun ini akan mencapai 390 juta ton.

Sementara itu, Direktur Pembinaan Pengusahaan Batu Bara Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Edy Prasodjo mengatakan hingga Februari 2013 lalu, produksi batu bara telah mencapai sekitar 66 juta ton, dengan rincian 50 juta ton di ekspor dan 16 juta ton sisanya untuk keperluan domestik.
"Batu bara dalam negeri paling banyak masih diekspor ke China, India, Korea, Jepang, Thailand dan Taiwan. Di sana juga kan banyak dibangun pembangkit listrik tenaga batu bara," ungkapnya.

Harga batu bara acuan (HBA) yang diterbitkan Kementerian ESDM pada Maret 2013 sendiri adalah US$90,09 per ton. Harga tersebut naik sekitar 2% jika dibandingkan dengan HBA yang telah ditetapkan pemerintah pada Februari
2013 yang sebesar US$88,35 per ton.

Saat ini, lanjut Edy, batu bara asal Kalimantan masih mendominasi batu bara yang diproduksi secara nasional. "Setidaknya 90% batu bara yang diproduksi saat ini berasal dari Kalimantan. Untuk itu kami perlu memikirkan pembatasan produksi," jelasnya. (if)


Source : Lili Sunardi

Editor : Ismail Fahmi

Ikuti berita Bisnis.com melalui smartphone Android dengan aplikasi Android Apps Bisnis.com. Download di Google Play!
 
Dapatkan data Neraca, Reksa Dana, Waran, Swap, Valas, Obligasi, dan Saham. Klik disini!
Reader's Choice: Pilih Topik menarik untuk Diulas oleh Harian Bisnis Indonesia. Klik disini!

Layak Disimak

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.