Selasa, 16 September 2014 RSS Feed Bisnis TV Photos ePaper Indonesia Business Daily

KELANGKAAN SOLAR: Distribusi Produk Makanan & Minuman Tersendat

Sri Mas Sari   -   Kamis, 25 April 2013, 19:43 WIB

BERITA TERKAIT

BISNIS.COM, JAKARTA – Kelangkaan solar bersubsidi di berbagai daerah menyebabkan distribusi produk makanan dan minuman tersendat, tetapi tak serta-merta membuat produsen menaikkan harga jual.

Sekjen Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Franky Sibarani mengatakan sebagian hasil produksi tidak sampai ke pasar karena produktivitas angkutan berkurang setelah terjadi kelangkaan pasokan solar.

“Yang biasanya satu hari bisa dua rit (perjalanan bolak-balik dalam satu trayek) Samarinda-Balikpapan, sekarang hanya satu rit. Akibatnya, sebagian barang tidak sampai ke pasar,” katanya, Kamis (25/4).

Kendati demikian, tersendatnya pasokan barang ke pasar tidak sampai membuat pabrik menaikkan harga produk. Menurut Franky, naik tidaknya harga jual ditentukan oleh peritel yang mengalami kelangkaan pasok barang.

Kalaupun terjadi kenaikan harga solar sebagai buntut kelangkaan bahan bakar tersebut, Franky memperkirakan tak berdampak signifikan pada harga jual produk.

Di subsektor industri makanan dan minuman, jelas dia, kontribusi harga bahan bakar minyak (BBM) terhadap biaya distribusi 25%. Namun, andil biaya distribusi terhadap harga jual produk hanya 2%.

Dia memberi contoh, jika harga produk semula Rp1.000 per bungkus, maka kenaikan harga BBM 25% hanya akan menyebabkan kenaikan Rp5 per bungkus.

Impact-nya (dampaknya) bisa dihitung hanya dalam skala rendah,” ujarnya. (if)


Editor : Ismail Fahmi

Ikuti berita Bisnis.com melalui smartphone Android dengan aplikasi Android Apps Bisnis.com. Download di Google Play!
 
Dapatkan data Neraca, Reksa Dana, Waran, Swap, Valas, Obligasi, dan Saham. Klik disini!
Reader's Choice: Pilih Topik menarik untuk Diulas oleh Harian Bisnis Indonesia. Klik disini!

Layak Disimak

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.