Kamis, 17 April 2014 RSS Feed Videos Photos ePaper English Version

Pemkab Boyolali Tingkatkan Populasi Sapi Potong

M. Kholikul Alim   -   Sabtu, 27 April 2013, 16:02 WIB

BERITA TERKAIT

BISNIS.COM, BOYOLALI--Pemerintah Kabupaten Boyolali melalui Dinas Peternakan dan perikanan setempat menghentikan sementara pemotongan sapi guna meningkatkan populasi sapi potong.

Kepala Disnakan Boyolali Dwi Priyatmoko mengatakan peningkatan populasi sapi ditujukan untuk menekan harga daging yang saat ini menembus Rp90.000 per kilogram.

Dwi menjelaskan penundaan pemotongan dilakukan dengan penerapan segmentasi pemeliharaan. Menurutnya, pola yang dilakukan kebanyakan peternak saat ini adalah pengembangan sapi dari anakan hingga siap potong.

Dengan penerapan segmentasi pemeliharaan, peternak akan fokus pada fase anakan, penggemukan, atau siap potong. Dwi menilai pola tersebut mampu memberikan hasil yang cukup bagi peternak.

Lebih jauh, dia menyebut bahwa stok sapi di Kabupaten Boyolali masih aman. Hal tersebut, lanjutnya, tampak dari jumlah kelahiran sapi per bulan.

"Jumlah sapi lahir di Boyolali, rata-rata berkisar empat ribu hingga lima ribu ekor per bulan atau mengalami peningkatan sekitar 15 persen dibanding tahun sebelumnya," ujarnya, Sabtu (27/4/2013).

Sementara itu, jumlah sapi yang dipotong di Boyolali berkisar 100 ekor per hari. Posisi Boyolali sebagai pemasok daging sapi untuk Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Yogyakarta membuat angka pemotongan sapi di daerah tersebut relatif tinggi.

"Jumlah populasi sapi itu, masih mencukupi kebutuhan daging bagi masyarakat Boyolali maupun suplai ke luar daerah," katanya. (Antara/dot)


Source : Newswire

Editor : Endot Brilliantono

 

Bisnis Indonesia Writing Contest berhadiah utama Mobil Daihatsu Ayla mulai menayangkan tulisan peserta 1 April 2014. Ayo “Vote & Share” sebanyak-banyaknya DI SINI.

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.