Kamis, 24 April 2014 RSS Feed Videos Photos ePaper English Version

OBAT KUAT: Waspada, 45% dari Total Produk Dipastikan Palsu

Gloria Natalia Dolorosa   -   Jum'at, 03 Mei 2013, 01:46 WIB

BERITA TERKAIT

BISNIS.COM, JAKARTA--Sebanyak 45% obat PDE5 Inhibitor (sildenafil), obat terapi disfungsi ereksi, di Indonesia dipastikan palsu.

Perhitungan itu merupakan hasil penelitian dari Fakultas Kedokteran Universias Indonesia – Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dengan dukungan PT Pfizer Indonesia.

Penelitian terhadap 518 jumlah tablet dari 157 outlet ini digelar di Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Malang, dan Medan. Metode yang digunakan riset yakni mystery shopping di berbagai macam outlet penjualan termasuk apotek, toko obat, penjual obat di pinggir jalan, dan situs online.

Widyaretna Buenastuti, Ketua Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan, mengatakan obat sildenafil ilegal paling banyak, sekitar 55%, dijual di Jabodetabek. Sildenafil dilego di toko farmasi, salah satunya. Riset menyebut seluruh sildenafil yang dijual di gerobak di pinggir jalan palsu.

“Pesan kami, belilah obat di sarana penjualan obat yang resmi. Itu cara konsumen melindungi diri,” kata Widyaretna saat konferensi pers soal hasil riset Victory Project, Kamis (2/5/2013).

Orang yang mengonsumsi obat palsu bisa jadi keracunan, otaknya rusak, bahkan meninggal dunia. Untuk menghindari obat palsu, masyarakat harus mengenali bentuk, ukuran, rasa, dan bau obat sebelum mengonsumsinya. Curigailah obat berharga sangat murah dan tanggal kadaluarsanya diubah.

Masyarakat pun harus berhati-hati saat mencari obat lewat jaringan Internet. Curigailah situs penjual obat yang tidak mencantumkan alamat fisik.


Editor : Yoseph Pencawan

Berlangganan Epaper Bisnis Indonesia Cuma Rp10 Juta Seumur Hidup, Mau? Klik disini!
 

Bisnis Indonesia Writing Contest berhadiah utama Mobil Daihatsu Ayla mulai menayangkan tulisan peserta 1 April 2014. Ayo “Vote & Share” sebanyak-banyaknya DI SINI.

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.