Rabu, 23 April 2014 RSS Feed Videos Photos ePaper English Version

KAWASAN HUTAN: Lima Sektor Bisnis Pinggirkan Hutan

Anugerah Perkasa   -   Minggu, 19 Mei 2013, 09:07 WIB

BERITA TERKAIT

BISNIS.COM, JAKARTA-- Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) mengidentifikasi sedikitnya lima sektor bisnis yang terus meminggirkan hutan di Indonesia sehingga menyebabkan kerusakan lingkungan dan berdampak pada masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

Sekretaris Jendral AMAN Abdon Nababan mengatakan pihaknya menyambut baik putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang mengakui hutan adat dalam putusan uji materil UU Kehutanan pada pekan ini.

Menurutnya, selama ini komunitas hutan yang mengelola hutan lebih baik dibandingkan dengan pengelolaan oleh pemerintah. Pada 16 Mei, MK menyatakan hutan adat bukanlah hutan negara, dan mengakui keberadaan komunitas adat.

Namun, AMAN selama ini menilai sedikitnya terdapat lima sektor bisnis yang meminggirkan hutan di Tanah Air. Sektor itu adalah kayu, pertambangan, minyak dan gas, perkebunan, dan konservasi karbon.

"Pengusaha kaya dan berpengaruh serta politikus elit telah meminggirkan komunitas adat selama bertahun-tahun demi mengejar laba dari proyek-proyek," kata Abdon dalam keterangan pers di Jakarta, yang dikutip pada Minggu, (19/5/2013).

Dia mengatakan peminggiran tersebut oleh sektor bisnis masih berlangsung hingga hari ini. Padahal, sambung Abdon, semakin banyak bukti menunjukkan bahwa komunitas yang mengelola hutan lebih baik sehingga dapat membantu mengurangi emisi gas rumah kaca. (ltc)


Editor : Linda Teti Silitonga

Berlangganan Epaper Bisnis Indonesia Cuma Rp10 Juta Seumur Hidup, Mau? Klik disini!
 

Bisnis Indonesia Writing Contest berhadiah utama Mobil Daihatsu Ayla mulai menayangkan tulisan peserta 1 April 2014. Ayo “Vote & Share” sebanyak-banyaknya DI SINI.

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.