Kamis, 18 Desember 2014

KELAPA SAWIT: Teknologi Canggih Ini Baru Dipakai 20% Industri

M. Kholikul Alim Selasa, 28/05/2013 08:44 WIB

BISNIS.COM, DUMAI--Pelaku industri hilir kelapa sawit didorong untuk menerapkan sistem methane capture guna mengurani emisi gas rumah kaca.

Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga berharap 60% pelaku industri hilir telah menggunakan sistem methane capture pada 2020.

"Saat ini pelaku industri yang menggunakan sistem methane capture baru sekitar 20% saja. Kami harapkan 60% pelaku industri sudah menggunakan sistem ini," ujarnya, Senin (27/5/2013) sore.

Sahat menyebut beberapa perusahaan besar telah menggunakan sistem ini a.l PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk, Pt Astra Agro Lestari Tbk, PT Musim Mas, PT Asian Agri, dan PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk, PT perkebunan Nusantara V, dan Grup Permata Hijau.

Mahalnya investasi, lanjutnya, masih menjadi kendala utama minimnya penggunaan sistem methane capture. Menurutnya, kebutuhan dana untuk penggunana teknologi tersebut minimal US$1 juta.

"Besarnya investasi tergantung jenis teknologi yang digunakan. Kalau menggunakan sistem blanket dana yang dibutuhkan US$1 juta, sedangkan jika menggunakan tangki investasinya sekitar US$2 juta," bebernya.

Sebagai tambahan informasi, methane capture merupakan teknologi yang digunakan untuk menangkap gas metana hasil pembakaran limbah sawit.

Dengan teknologi methane capture emisi gas rumah kaca dari industri pengolahan kelapa sawit bisa diminimalisir.

Penerapan sistem methane capture, lanjutnya, merupakan respons atas perhatian pasar terhadap industri ramah lingkungan yang semakin meningkat beberapa tahun belakangan.

Menurutnya, isu tersebut kerapkali dihembuskan beberapa negara untuk menghalangi masuknya produk olahan kelapa sawit dari Indonesia.

"Dengan penerapan methane capture Indonesia bisa membuktikan pada pasar internasional bahwa produk kita ramah lingkungan," jelasnya.

Selain ramah lingkungan, teknologi methane capture juga bisa digunakan sebagai pembangkit listrik.

General Manager Permata Hijau Grup Hendra Gunawan mengatakan pemanfaatan teknologi tersebut mampu memenuhi seluruh kebutuhan tenaga listrik PT Pelita Agung Agrindustri yang meruapakan anak usaha Permata Hijau Grup.

"Saat ini kebutuhan tenaga listrik Pelita Agung dipenuhi seluruhnya oleh teknologi methane capture. Kami tidak lagi menggunakan sumber daya fosil untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik," ujarnya.

Hendra menambahkan teknologi methane capture yang diterapkan Pelita Agung mampu menghasilkan tenaga listrik 1 megawatt.

Daya tersebut mampu menggerakkan berbagai lini bisnis yang dijalankan Pelita Agung yakni minyak sawit, oleokimia, biodiesel, gliserin, dan minyak goreng.(yop)

Apps Bisnis.com available on:    
Beli Buku, Data, ePaper, Indonesia Business Daily bisa dengan kartu kredit. Klik di sini!
Reader's Choice: Pilih Topik menarik untuk Diulas oleh Harian Bisnis Indonesia. Klik di sini!
more...