Rabu, 01 Oktober 2014 RSS Feed Bisnis TV Photos ePaper Indonesia Business Daily

E-TICKETING KRL: Ditunda Hingga 1 Juli 2013

Henrykus F. Nuwa Wedo   -   Kamis, 30 Mei 2013, 13:54 WIB

BERITA TERKAIT

BISNIS.COM, JAKARTA—PT KAI Commuter Jabodetabek, anak usaha PT Kereta Api Indonesia, menunda penerapan tiket elektronik secara menyeluruh hingga 1 Juli 2013 karena proses sosialisasi akan dilakukan sepanjang Juni 2013 pada semua penumpang KRL di lintas Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi.

Direktur Utama PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) Tri Handoyo menjelaskan pihaknya menunda pelaksanaan tiket elektronik (e-ticketing) selama 1 bulan dari rencana awal yang akan diterapkan pada 1 Juni 2013 hingga masyarakat memahami penggunaan tiket elektronik.

“ diundur karena penumpang belum siap dan sosialiasi butuh sekitar satu bulan. Dan memang perlu penyesuain aplikasi dan instal semua sistem di stasiun,” ujarnya di Jakarta, Kamis (30/5).

Tri juga menambahkan penerapan tarif progresif yang direncakan akan dilaksanakan pada Juni 2013 juga ditunda karena saat ini pihaknya masih menggunakan tiket manual yang menggunakan kertas.

Menurutnya selama Juni 2013 pihaknya menerapakan penjualan tiket KRL Jabodetabek dalam dua bentuk yaitu menggunakan kartu commet untuk sekali perjalanan (single trip) sejak pukul 09.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB dan tiket kertas masih tetap diterapkan pada jam sibuk.  

Bila proses sosialisasi telah dilakukan dengan baik maka pihaknya merencanakan akan menerapkan tiket elektronik dan tarif progresif pada  Juli 2013 secara serentak sehingga dapat berjalan secara bersamaan di semua stasiun.   

Saat ini dia menambahkan meskipun kartu commet untuk sekali perjalan (single trip) telah diberlakukan namun harga tiket KRL Jabodetabek tetap berlaku seperti harga lama yaitu dari Rp8.000 hingga Rp9.000.

PT KAI Commuter Jabodetabek ,imbuhnya, akan menerapkan tarif progresif pada Juli 2013 yaitu setiap penumpang KRL Jabodetabek membayar Rp3.000 pada 5 stasiun awal dan Rp1.000 setiap 3 stasiun selanjutnya.

“Sebelum menerapkan tarif progresif treatment harus sama karena tidak mungkin diterapkan saat ini. Kami tidak mau nanti berantakan,” katanya. 


Editor : Sepudin Zuhri

Ikuti berita Bisnis.com melalui smartphone Android dengan aplikasi Android Apps Bisnis.com. Download di Google Play!
 
Beli Buku, Data, ePaper, Indonesia Business Daily bisa dengan kartu kredit. Klik di sini!
Reader's Choice: Pilih Topik menarik untuk Diulas oleh Harian Bisnis Indonesia. Klik di sini!

Layak Disimak

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.