Rabu, 27 Agustus 2014 RSS Feed Bisnis TV Photos ePaper Indonesia Business Daily

LADA PUTIH: Harga di Pangkalpinang Terkerek Permintaan Dunia

Reporter   -   Minggu, 16 Juni 2013, 13:13 WIB

BERITA TERKAIT


Lada Putih (foto:spicetrekkers.com)

BISNIS.COM, PANGKALPINANG - Harga lada putih di tingkat pedagang pengumpul di Kota Pangkalpinang, Provinsi Bangka Belitung, Minggu (16/6/2013), naik menjadi Rp85 ribu dibandingkan sebelumnya Rp80.000 per kilogram terdorong oleh meningkatnya permintaan pasar dunia.

"Kenaikan harga lada putih karena permintaan pasar dalam dan luar negeri tinggi, berdampak minat petani menjual hasil budidaya tersebut meningkat," ujar Ellan pedagang pengumpul di Pangkalpinang, Minggu.

Dia menjelaskan saat ini petani mulai menjual hasil perkebunan karena mereka menilai harga komoditas tersebut sudah sebanding dengan biaya pengelolaan tanaman komoditas ekspor itu.

"Harga lada putih diperkirakan akan terus mengalami kenaikan mencapai Rp95.000 per kilogram karena tingkat konsumsi masyarakat dalam dan luar negeri tinggi," ujarnya.

Dia mengatakan dalam sepekan terakhir ini, pedagang mampu mengumpulkan 750 kilogram dibanding sebelumnya hanya berkisar 200 kg - 300 kg lada putih per pekan.

"Transaksi mengalami peningkatan selain karena harga lada naik juga bertambahnya kebutuhan petani memasuki tahun ajaran baru, menjelang puasa Ramadan dan Idul Fitri," ujarnya.

Menurut dia, permintaan pasar luar negeri seperti Jepang, Amerika Serikat, negara-negara Eropa, Belanda dan lainnya cukup tinggi karena lada putih Babel atau Muntok white pepper memiliki cita rasa dan aroma yang khas.

Sementara itu hasil lada petani masih kurang memadai untuk memenuhi permintaan eksportir komoditas tersebut.

"Dalam beberapa tahun terakhir, hasil lada putih memang mengalami penurunan karena minat petani mengembangkan komoditas ini berkurang dan mereka lebih tertarik membudidayakan tanaman lainnya seperti karet, kakao, atau menambang bijih timah karena lebih mudah dan cepat menghasilkan uang," ujarnya.

Selain itu, kata dia, petani kesulitan memperoleh pupuk, bibit dan kayu junjung tanaman lada, meskipun ada, harganya tinggi sehingga biaya produksi budidaya tersebut meningkat.


Source : Antara

Editor : Fatkhul Maskur

 

Layak Disimak

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.