Pengambilalihan Inalum, Perbedaan Nilai Aset versi Indonesia-Jepang Mengecil

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Perindustrian M.S. Hidayat mengklaim perbedaan perhitungan nilai aset versi Jepang dan Indonesia terkait dengan pengambilalihan PT Indonesia Asahan Aluminium sudah mengecil.
Riendy Astria | 02 Oktober 2013 17:18 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Perindustrian M.S. Hidayat mengklaim perbedaan perhitungan nilai aset versi Jepang dan Indonesia terkait dengan pengambilalihan PT Indonesia Asahan Aluminium sudah mengecil.

“Kami sudah mengirim surat kepada mereka, mungkin final call-nya dalam beberapa hari ini. Selisih jumlahnya sekarang sudah mengecil,” ujarnya, Rabu (2/10).

Sayang, dia enggan menyebutkan berapa nilai angka tersebut. Sebelumnya, Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan masih ada perbedaan yang cukup jauh soal perhitungan nilai aset versi Jepang dan Indonesia.

Menurutnya, nilai aset Inalum berdasarkan perhitungan Jepang adalah US$650 juta, sedangkan perhitungan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) senilai US$390 juta.

Hidayat mengatakan tim perunding kecil dari pihak Indonesia sudah mengatur angkanya. Bila pihak Jepang tidak sepakat, sesuai dengan yang diatur dalam master agreement pihak Indonesia akan membayar sesuai dengan perhitungan sendiri.

Kemudian, proyek akan kembali ke Indonesia pada 1 November 2013 dan tetap bisa berproduksi dengan menggunakan nama PT Inalum sebagai perusahaan.

“Mengenai selisih yang tidak sesuai, kita maju ke arbitrase, jadi tidak ada masalah,” ujarnya.

Sebelumnya, pemerintah telah menyediakan anggaran Rp7 triliun untuk mengambil alih Inalum. Hidayat telah mengusulkan anggaran Rp7 triliun masuk ke escrow account.

Saat ini pemerintah Indonesia memiliki 41,13% saham PT Inalum, sisanya sebesar 58,87% dimiliki oleh konsorsium NAA. Konsorsium ini beranggotakan Japan Bank for International Cooperation (JBIC) sebagai wakil pemerintah Jepang dan 12 perusahaan swasta Jepang.

Adapun usai pengambilalihan, Inalum diharuskan menambah kapasitas produksi.Pemerintah melalui tim negosiasi pengambilalihan Inalum merekomendasikan agar pasca pengambilalihan, Inalum harus menambah kapasitas aluminium primer hingga 400.000 ton per tahun dengan kebutuhan investasi sekitar US$700 juta atau setara Rp7 triliun.

Beberapa pengembangan bisnis yang direkomendasikan antara lain, Inalum harus mensuplai aluminium primer dan aluminium alloy untuk kebutuhan domestik dan sisanya bisa diekspor.

Kemudian, Inalum harus mengembangkan aluminium alloy untuk memenuhi kebutuhan aluminium hilir domestik yang difokuskan untuk kabel transmisi listrik.

Tag : inalum, ms hidayat
Editor : Bambang Supriyanto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top