Daya Beli Turun, Industri Tepung Terigu Sulit Tumbuh

Bisnis.com, JAKARTA - Pelaku industri tepung terigu nasional mengakui tingkat konsumsi terigu dalam negeri tahun ini sulit tumbuh akibat daya beli masyarakat yang turun.Direktur Eksekutif Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo) Ratna Sari
Peni Widarti | 02 Oktober 2013 19:04 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Pelaku industri tepung terigu nasional mengakui tingkat konsumsi terigu dalam negeri tahun ini sulit tumbuh akibat daya beli masyarakat yang turun.

Direktur Eksekutif Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo) Ratna Sari Loppies mengatakan tingkat konsumsi semester I/2013 ini hanya 2,6 juta ton, atau hanya tumbuh 0,83% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, padahal total kapasitas giling gandum di Indonesia mencapai sekitar 8,2 juta ton per tahun.

"Bahkan data terakhir kalau kami lihat dari Januari-September ini pertumbuhannya hanya 0% atau bisa dibilang tidak tumbuh. Para pengusaha di Apindo juga mengeluhkan hal yang sama, mengapa penjualan produknya tahun ini bisa turun," ungkapnya kepada Bisnis, Rabu (2/10/2013).

Ratna menyebutkan tingkat pertumbuhan tahun ini sangat berbeda dengan 2011 – 2012. Tingkat konsumsi pada 2012 yakni 5,05 juta  ton, tumbuh 7,02% dibandingkan dengan 2011.

Menurut Ratna, turunnya daya beli masyarakat tahun ini lebih disebabkan karena naiknya harga-harga kebutuhan bahan pangan pokok, bahan bakar minyak (BBM), tarif dasar listrik, bahkan biaya pendidikan yang semakin tinggi.

"Dengan kondisi yang begini, mungkin masyarakat lebih memilih kebutuhan yang benar-benar penting. Kalau seperti ini, saya belum bisa memprediksi berapa pertumbuhannya sampai akhir tahun nanti, mungkin hanya di bawah 7%," katanya.

Dia mengungkapkan konsumsi tepung yang turun tidak hanya dari sisi konsumen masyarakat rumah tangga tetapi juga industri makanan olahan pengguna terigu.

"Gapmmi [Gabungan pengusaha makanan dan minuman seluruh Indonesia] pun juga mengeluh penjualannya turun saat periode lebaran, padahal biasanya saat lebaran justru naik," tutur Ratna.

Dia menjelaskan industri terigu nasional sebenarnya tumbuh sejak deregulasi 1998, yang awalnya hanya terdapat 5 pabrik di era Bulog, kini menjadi 22 pabrik hingga 2013, bahkan ada 3 pabrik tepung terigu lagi yang rencananya akan berdiri 2014.

Adapun 18 pabrik terpusat di Pulau Jawa dan di luar Jawa ada 4 Pabrik dengan kapasitas terpakai sekitar 60%. Pasokan produsen dalam negeri yakni 97,6% dan impor 2,4%.


Tag : terigu, tepung terigu
Editor : Bambang Supriyanto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top