Sumsel Siap Jadi Pusat Industri Hilir Karet

Bisnis.com, PALEMBANG – Sumatra Selatan dinilai merupakan provinsi yang paling siap menjadi pusat industri hilir karet di Indonesia dibanding provinsi lain karena memiliki rencana infrastruktur yang matang untuk mendukung realisasi penghiliran
Dinda Wulandari | 02 Oktober 2013 19:38 WIB

Bisnis.com, PALEMBANG – Sumatra Selatan dinilai merupakan provinsi yang paling siap menjadi pusat industri hilir karet di Indonesia dibanding provinsi lain karena memiliki rencana infrastruktur yang matang untuk mendukung realisasi penghiliran tersebut.

Ketua Dewan Karet Indonesia Aziz Pane mengatakan pihaknya melihat Sumsel  bisa menjawab kelemahan utama  untuk mengembangkan industri hilir karet dalam negeri,  yaitu infrastruktur.

“Kelemahan kita adalah tidaknya infrastruktur dan industrik yang mendukung penghiliran ini. Dengan rencana Pelabuhan Tanjung Api – Api dan jalan tol Trans Sumatra di Palembang, saya pikir Sumsel merupakan daerah penghasil karet yang paling siap dibanding provinsi lain,”paparnya di sela Global Rubber Conference 2013 di Palembang, Rabu (2/10).

Aziz mengatakan saat ini produksi karet dalam negeri tercatat sebanyak 3,2 juta ton di mana baru 500.000 ton – 600.000 ton yang dimanfaatkan untuk pabrik ban yang ada di tanah air. Sisa produksi yang masih berupa bahan olah karet (bokar) itu digunakan untuk ekspor ke sejumlah negara di Amerika dan Eropa serta China.

Sementara berdasarkan data Pemprov Sumsel, produksi karet asal provinsi itu mencapai 1,2 juta ton atau berkontribusi sekitar 35% dari total produksi nasional. Tanaman karet ini tersebar di 7 kabupaten/kota, meliputi Kabupaten Musi Banyuasin, Musi Rawas, Banyuasin, Muara Enim, Ogan Komering Ulu (OKU), OKU Timur dan Ogan Komering Ilir dengan total luas lahan sekitar 1,2 juta ha.

Menurut dia, sudah seharusnya investasi industri hilir komoditas ini tidak lagi terpusat di Jawa melainkan berkembang di Sumatra yang memiliki banyak daerah penghasil karet.

Aziz menambahkan sebetulnya banyak sektor industri yang menggunakan bokar untuk produknya, termasuk industri mainan anak. Sehingga, peluang untuk mendapat nilai tambah dari komoditas ini sangat terbuka lebar.

“Oleh karena itu kami menggandeng lembaga penelitian untuk meneliti produk-produk apa saja yang memakai karet dan mempunyai pasar besar,” katanya.

Masalah lain yang menjadi sorotan Dewan Karet Indonesia adalah kelemahan sumber daya manusia (SDM) yang dapat berdampak pada kualitas produksi.

Pihaknya pun berencana mendirikan koperasi di sentra-sentra perkebunan karet rakyat agar petani mendapat binaan tentang pemakaian bibit unggul. Sehingga, kualitas produksi dapat meningkat.

Sementara itu Gubernur Sumsel Alex Noerdin mengatakan pemerintah daerah siap membantu percepatan hilirasi komoditas karet di provinsi itu.

“Apapun yang diperlukan kami siap dukung, misalnya perizinan agar komoditas ini memiliki nilai tambah dengan adanya industri hilir,” katanya.

Industri hilir untuk sektor pertanian, termasuk perkebunan, juga menjadi fokus Pemprov Sumsel dalam rencana pembangunan 2014.

“Selain menyelesaikan jalan provinsi sepanjang 1.442 kilometer dengan alokasi sekitar US$100 juta, kami memang akan fokus juga pada industri hilir untuk agriindustri,” katanya.

Dia mengemukakan Sumsel memiliki fasilitas Pelabuhan Tanjung Api – Api yang bisa dimanfaatkan sebagai lokasi industri pengolahan karet. Oleh karena itu pihaknya berharap melalui pertemuan yang diikuti 25 negara peserta ini dapat juga menjadi peluang menawarkan investasi di sektor hilir karet.

Tag : karet, industri karet
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top