Jumlah Rumah Tangga Petani di Balikpapan Anjlok

Bisnis.com, BALIKPAPAN - Jumlah rumah tangga usaha pertanian di Kota Balikpapan mengalami penurunan hingga 43% atau sebanyak 4.550 rumah tangga dari 10.568 rumah tangga menjadi 6.018 rumah tangga akibat adanya peralihan usaha atau peningkatan kapasitas
Rachmad Subiyanto
Rachmad Subiyanto - Bisnis.com 02 Oktober 2013  |  19:35 WIB

Bisnis.com, BALIKPAPAN - Jumlah rumah tangga usaha pertanian di Kota Balikpapan mengalami penurunan hingga 43% atau sebanyak 4.550 rumah tangga dari 10.568 rumah tangga menjadi 6.018 rumah tangga akibat adanya peralihan usaha atau peningkatan kapasitas usaha masyarakat.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Balikpapan Syahruni mengatakan peningkatan kapasitas usaha ini menunjukkan adanya tambahan modal bagi rumah tangga pertanian. Apabila sebelumnya menjadi nelayan tangkap, saat ini rumah tangga tersebut sudah menjadi nelayan sambang yang tergolong dalam rumah tangga perdagangan.

“Ini yang cukup besar menyebabkan penurunan rumah tangga pertanian dibandingkan dengan hasil sensus 2003 lalu,” ujarnya kepada wartawan, Rabu (2/10/2013).

Syahruni menambahkan penurunan terbesar terjadi di wilayah Kecamatan Balikpapan Selatan yang mencapai 82,49% dari 3.433 rumah tangga pertanian menjadi hanya 601 rumah tangga pertanian. Kendati demikian, Kecamatan Balikpapan Utara mengalami peningkatan rumah tangga pertanian sebesar 5% dari 1.998 rumah tangga pertanian menjadi 2.098 rumah tangga pertanian.

Sementara untuk jumlah perusahaan pertanian berbadan hukum justru mengalami peningkatan hampir dua kali lipat dibandingkan dengan sepuluh tahun yang lalu. Saat ini, jumlah perusahaan pertanian berbadan hukum mencapai 25 unit dari sebelumnya hanya 13 unit.

“Dari jumlah perusahaan pertanian berbadan hukum ini bisa menunjukkan ada rumah tangga pertanian yang sebelumnya menjadi petani atau nelayan berubah menjadi perusaaan pertanian,” tukasnya.

Syahruni memaparkan perusahaan pertanian ini bergerak dalam bidang usaha pendukung pertanian seperti penyediaan pupuk, obat-obatan dan perlengkapan pertanian.

Sementara itu, Kepala Seksi Statistik Produksi BPS Kota Balikpapan Umar Riyadi menambahkan alasan lain dari penurunan jumah rumah tangga pertanian ini karena adanya alih fungsi lahan. Dirinya berpendapat penurunan angka tersebut akan berdampak pada kondisi ketahanan pangan di dalam kota. “Meskipun Balikpapan bukan merupakan daerah pertanian, tapi perlu untuk memperhatikan ketahanan pangan.”

Kepala Dinas Pertanian, Kelautan dan Perikanan (DPKP) Kota Balikpapan Chaidar Chairulsyah berpendapat ketergantungan dengan daerah lain memang tidak bisa dipisahkan karena kota itu memiliki keterbatasan lahan. Namun, pihaknya juga sudah berupaya untuk menggalakkan produktifitas melalui rumah pangan lestari kendati baru untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Tag : balikpapan, pertanian
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top