Industri Perikanan, Ini 5 Hambatan Utama

Kendati kaya bahan baku, industri perikanan nasional menghadapi lima hambatan, yakni bahan baku, infrastruktur, teknologi, permodalan, dan budaya.
Ana Noviani
Ana Noviani - Bisnis.com 02 Desember 2013  |  16:33 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Kendati kaya bahan baku, industri perikanan nasional menghadapi lima hambatan, yakni bahan baku, infrastruktur, teknologi, permodalan, dan budaya.

Direktur Pemasaran Dalam Negeri Kementerian Kelautan dan Perikanan Sadullah Muhdi menuturkan pasar produk perikanan di level domestik dan global menuntut standar kualitas, keseragaman ukuran, dan inovasi produk.

"Sekarang banyak produsen yang kecil-kecil dan produknya beragam. Padahal industrialisasi menuntut keteraturan," ujarnya dalam Simposium Pangan Nasional, Senin (2/12).

Hingga 2010, jumlah unit pengolahan ikan (UPI) di Indonesia mencapai 60.117 unit. UPI tersebut tersebar di Jawa Timur sebanyak 10.640 unit, Jawa Tengah 8.350 unit, Jawa Barat 5.966 unit, Kalimantan Selatan 3.660 unit, dan Nusa Tenggara Barat 3.550 unit.

Menurut Sadullah, masalah terbesar dalam industri pengolahan ikan adalah pasokan bahan baku dan infrastruktur. Untuk mengatasi hal tersebut, KKP tengah membangun Sistem Logistik Ikan Nasional (SLIN) untuk menampung dan mendistribusikan bahan baku dari lokasi penangkapan dan sentra budidaya ke UPI secara efisien.

"Kita akan uji coba SLIN koridor Sulawesi Tenggara ke Jawa Timur. Ini juga perlu kerjasama antara nelayan di hulu, nelayan pengumpul, perusahaan cold storage, dan perusahaan pengolahan," tuturnya.

Pada kesempatan yang sama, CEO PT Kelola Group M. Nadjikh mengatakan pemerintah belum banyak melibatkan sektor swasta untuk pemenuhan infrastruktur penunjang industri pengolahan ikan.

Akibatnya, infrastruktur penunjang sistem rantai dingin seperti kalan ikan berpendingin, cool box untuk nelayan tradisional, pabrik es dan cold storage masih sangat minim.

"Kalau kontiuitas bahan baku berkualitas dan efisien sulit tercapai, industri susah berkembang. Di Jawa saja infrastrukturnya tidak lengkap, apalagi di luar Jawa. Padahal lokasi penangkapan mayoritas di Indonesia Timur," tuturnya.

Selain bahan baku dan infrastruktur, Nadjikh juga menyoroti faktor teknologi sebagai penghambat berkembangnya industri.

"Industri kita kalah dalam mengadopsi teknologi produksi dan pengemasan. Padahal bisa impor dari Teknologi Jepang, Taiwan, China, atau Thailand. Akibatnya variasi produk juga minim," kata Nadjikh.

Rendahnya adopsi teknologi, imbuhnya, a.l. disebabkan oleh keengganan bank menyalurkan kredit investasi ke industri di sektor perikanan lantaran tingginya tingkat kredit macet (non performing loan/NPL) yang mencapai 11,76%. Alokasi kredit perikanan hanya mencapai 0,22% dari total penyaluran kredit bank.

"Budaya masyarakat lebih menyukai ikan segar dan kering. Variasi olahan produk ikan, seperti baso ikan, nugget ikan, sosis ikan kurang laku di pasar domestik," kata Nadjikh.

Tag : industri perikanan, kementerian kelautan dan perikanan
Editor : Bambang Supriyanto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top