Kamis, 23 Oktober 2014 RSS Feed Bisnis TV Photos ePaper Indonesia Business Daily

Ekspor Mineral Mentah Dilarang, Antam (ANTM) Pangkas Produksi

Editor   -   Kamis, 12 Desember 2013, 07:25 WIB

BERITA TERKAIT

Bisnis.com, BOGOR - Rencana larangan ekspor mineral mentah sebagai implementasi penerapan UU No.4/2009 yang mulai berlaku 12 Januari 2014 mulai berdampak. PT Aneka Tambang Tbk. Mulai menurunkan produksi nikel mentah sembari menanti respons pasar.

Direktur Utama Antam Tato Miraza mengatakan perseroan dari sisi operasional sangat tertantang dengan adanya pemberlakuan UU mengenai minerba tersebut.

“Produksi kami saat ini slow down dulu. Kami juga menunggu reaksi pasar berkaitan dengan adanya larangan ekspor mulai awal Januari 2014,” katanya, seperti dilaporkan Harian Bisnis Indonesia, Kamis (12/12/2013).

Dia menjelaskan perseroan akan melakukan konsolidasi tambang nikel mentah selama periode 2014. Namun, perseroan berencana menggenjot produksi nikel mentah pada 2015 setelah implementasi UU soal Minerba benar-benar jelas pelaksanaannya.

Sementara itu, Sekretaris Perusahaan Antam Tri Hartono mengatakan dengan pemberlakuan UU, BUMN itu harus kembali mengatur tambang mineralnya. “Pengurangan produksi pasti kita lakukan,” katanya.

Padahal, perseroan telah menetapkan target ekspor nikel mentah tahun ini sebanyak 10,3 juta ton. Hingga kuartal III/2013, ekspor untuk nikel kualitas tinggi hanya mencapai 4,5 juta ton.

Dia mengatakan perseroan telah menyampaikan surat resmi kepada buyer di China. “Untungnya, kontrak dengan China hanya bersifat spot, tidak ada kontrak jangka panjang yang harus kami penuhi,” katanya.

Menurutnya, kontrak Antam selama ini selalu berdasarkan pada regulasi sehingga ketika regulasi melarang ekspor, maka Antam tidak akan menyalahi regulasi yang sudah ditetapkan.

Tri menjelaskan pendapatan dari bahan mentah diprediksi hanya menyumbang 33% saja. “Penurunan pendapatan bisa satu digit hingga dua digit, tergantung harga di pasar,” tambah Tato.

Namun, Tato tetap optimistis pendapatan Antam diprediksi tetap meningkat. Pasalnya, untuk nikel tidak ada supplier lain, bahkan harga komoditas itu kini cenderung naik seiring dengan rumors adanya larangan ekspor mineral.

Selengkapnya baca di Harian Bisnis Indonesia edisi Kamis (12/12/2013) atau di http://epaper.bisnis.com/index.php/ePreview?IdCateg=20131212141

 


Source : Bisnis Indonesia (12/12/2013)

Editor : Nurbaiti

Ikuti berita Bisnis.com melalui smartphone Android dengan aplikasi Android Apps Bisnis.com. Download di Google Play!
 
Beli Buku, Data, ePaper, Indonesia Business Daily bisa dengan kartu kredit. Klik di sini!
Reader's Choice: Pilih Topik menarik untuk Diulas oleh Harian Bisnis Indonesia. Klik di sini!

Layak Disimak

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.