Ekspor Udang Indonesia Tertinggal

Asosiasi Pengusaha Pengolahan & Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I) mengungkapkan produksi udang Indonesia masih tertinggal bila dibandingkan dengan Vietnam dan Thailand.
Adi Ginanjar Maulana/Dimas Waradhytia Nugraha
Adi Ginanjar Maulana/Dimas Waradhytia Nugraha - Bisnis.com 24 April 2014  |  16:24 WIB
Udang Indonesia masih tertinggal bila dibandingkan dengan Vietnam dan Thailand - JIBI

Bisnis.com, BANDUNG — Asosiasi Pengusaha Pengolahan & Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I) mengungkapkan  produksi udang Indonesia masih tertinggal bila dibandingkan dengan Vietnam dan Thailand.

Ketua AP5I Thomas Darmawan mengatakan  data yang dihimpun Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang menyebutkan produksi udang pada 2013 mencapai 400.000 ton kurang valid. Karena fakta di lapangan produksi hanya mencapai 250.000-300.000 ton.

"Sementara pada periode yang sama Vietnam dan Thailand masing-masing mampu memproduksi sekitar 500.000 ton," kata Thomas kepada Bisnis, Kamis (24/4/2014).

Bersama Vietnam dan Thailand, jelasnya, Indonesia memang termasuk ke dalam eksportir utama udang di kawasan Asia Tenggara. Namun untuk pasar dunia Indonesia baru menguasai 5% dari total 10 juta ton permintaan per tahun.

Masalah utama terdapat pada kawasan industri budi daya dan pengolahan hasil laut yang tidak dimiliki oleh Indonesia.

"Kita harus mencontoh China yang membangun Aquatic Trade Center, sehingga pengolahan dan pembudidayaan bisa lebih efektif dan efisien," ujar Thomas.

Disinggung mengenai kesiapan menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean Thomas menegaskan terdapat tiga poin utama yang harus dibenahi pemerintah untuk menjaga stabilitas produksi komuditas udang.

Pertama pembenahan infrastruktur, karena Indonesia membutuhkan kawasan industri untuk tambak dan hasil laut agar proses produksi tidak memakan banyak waktu dan biaya.

"Sekarang ini untuk pengembangan udang yang tambaknya di Pekanbaru, bibitnya berasal dari Bogor. Padahal untuk dipasarkan di Jakarta," ujarnya.

Kedua pembenahan masalah sosial. Diakui Thomas masih banyak pungutan liar yang harus dihadapi para nelayan atau petambak udang.

"Banyak oknum aparatur yang menarik biaya retribusi bagi para nelayan dan petambak tanpa alasan yang jelas," ungkapnya.

Terakhir Thomas meminta pemerintah untuk lebih arif dalam menetapkan peraturan dan regulasi.

"Pasalnya beberapa putusan peraturan pemerintah malah membebani industri, kenaikan tarif listrik contohnya," kata Thomas.

Sekjen Serikat Nelayan Indonesia (SNI) Jawa Barat Budi Laksana mengatakan para nelayan di Pantura selama ini sudah mulai meninggalkan dalam aktivitas penangkapan udang karena terkendala peralatan.

Dia menjelaskan saat ini satu nelayan yang menangkap udang di laut paling banyak mendapat 2 kuintal udang per minggu.

“Kami terkendala sarana dan prasarana peralatan teknologi canggih. Kalau pemerintah memberikan peralatan justru hal ini menjadi alternatif pekerjaan nelayan di samping mencari ikan,” katanya.

Dia menjelaskan potensi udang di kawasan Pantura bila dioptimalkan dengan baik bisa bersaing dengan impor bahkan diekspor. 

“Udang di sini berkualitas tinggi. Seperti udang cangkrek itu sudah banyak diekspor ke luar negeri,” ujarnya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mengakui jika penangkapan hasil tangkapan ikan maupun udang yang dilakukan menurun akibat penggunaan teknologi yang kurang memadai.

Dia mengatakan persoalan di sektor perikanan bisa teratasi apabila para nelayan menggunakan teknologi yang modern.

“Misalnya untuk menghasilkan ikan tuna atau ikan lain di Jabar yang jaraknya hanya 12 mil masih kalah dibandingkan dengan nelayan Vietnam yang mencapai ribuan mil ke Samudra Hindia untuk menangkapnya karena mereka menggunakan teknologi modern,” katanya.

Dia menjelaskan sekitar 25% hasil perikanan dunia terdapat di Indonesia. Maka dari itu, pihaknya terus memberikan pemahaman dan bantuan peralatan berteknologi modern kepada nelayan agar mereka bisa menggenjot hasil produksinya terlebih daya saing menjelang pasar bebas Asean 2015.

Tag : ekspor udang
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top