DAMPAK KENAIKAN TDL: Pengusaha Minta Keringanan Pembayaran

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Barat mengharapkan pembayaran listrik bisa dicicil hingga setahun dipicu penaikan listrik bagi industri besar awal Mei lalu.
Adi Ginanjar Maulana
Adi Ginanjar Maulana - Bisnis.com 02 Juni 2014  |  15:27 WIB
Penyambungan aliran listrik. Pengusaha minta keringanan pembayaran TDL - Bisnis

Bisnis.com, BANDUNG--Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Barat mengharapkan pembayaran listrik bisa dicicil hingga setahun dipicu penaikan listrik bagi industri besar awal Mei lalu.

Ketua Apindo Jabar Dedy Widjaja mengaku sudah memberikan pernyataan dan sejumlah data kepada Apindo pusat untuk selanjutnya ditindaklanjuti oleh pemerintah.

"Kami harap pembayaran listrik ini bisa dicicil hingga setahun, karena cukup memberatkan bagi kalangan dunia usaha," katanya kepada Bisnis, Senin (2/6/2014).

Meski penaikan listrik hanya berlaku bagi industri besar, namun imbasnya ke seluruh sektor dunia usaha.

Dedy meminta pemerintah bijak dalam menyikapi kenaikan listrik bagi industri besar dengan memberikan keringanan maupun insentif agar dunia usaha tidak kelabakan, terutama sektor padat karya yang memperkerjakan banyak tenaga kerja.

"Kami minta pemerintah mengabulkan cicilan pembayaran ini, serta memberikan insentif yang cukup bagi dunia usaha. Dengan demikian, dunia usaha diharapkan mampu bertahan untuk melakukan aktivitas produksi," ujarnya.

Dedy mengungkapkan, selain dampak terhadap industri, kenaikan listrik juga membuat daya beli masyarakat menurun.

Adapun jika keinginan pengusaha tidak ditindaklanjuti oleh pemerintah, maka pihaknya memprediksi pemutusan hubungan kerja (PHK) yang besar akan terjadi sehingga hal ini berdampak pada pengangguran yang semakin tinggi.

Dedy juga menjelaskan pemerintah yang baru nanti diharapkan mampu menaikkan harga BBM yang lebih realistis karena akan lebih menghemat uang negara daripada menaikkan tarif listrik.

“Apindo lebih setuju pemerintah  menaikkan harga BBM, karena masyarakat sangat konsumtif dalam pemakaiannya.”

Meski demikian, penghematan anggaran ini harus diarahkan kepada pembangunan infrastruktur karena kondisi di Jabar masih banyak yang belum diperbaiki.

"Infrastruktur di Jabar masih banyak yang rusak sehingga menyebabkan pengiriman barang menjadi lama,” ujar Dedy.

Sementara itu, nilai ekspor Jawa Barat pada bulan Maret 2014 mencapai US$2.261,14 juta atau naik 6,15% dibandingkan bulan sebelumnya.

Kontribusi ekspor komoditi nonmigas pada Maret mencapai US$2.138,07 juta, naik 1,37% dibanding Februari. Sementara ekspor migas juga meningkat sebesar 486,88% dari US$20,97 juta menjadi US$123,07 juta.

Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Jabar Dody Gunawan Yusuf mengatakan kontribusi terbesar ekspor di kawasan ini didapat dari nonmigas sebesar 97,05%.

"Sementara nilai ekspor migas hanya berkontribusi sebesar 2,92%," katanya.

Dia menjelaskan ekspor nonmigas pada Maret terbesar adalah ke Amerika Serikat, Jepang, dan Thailand yang masing-masing sebesar 17,96%, 12,14%, dan 8,05%.

Dia juga mengungkapkan selama 13 bulan terakhir, nilai ekspor nonmigas paling tinggi tercatat pada Juli 2014 dengan nilai US$2.511,03 juta dan nilai terendah pada Agustus 2013 sebesar US$1.716,09 juta.

Selain itu, nilai impor Jabar pada 2014 mengalami peningkatan sebesar 18,30% atau US$913,36 juta, dibandingkan bulan sebelumnya.

"Secara kumulatif nilai impor Januari-Maret 2014 mencapai US$3.266,21 juta atau turun 9,06% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya," ujarnya

Tag : dampak kenaikan tdl
Editor : Ismail Fahmi

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top