Krisis Listrik: Pemerintah Didesak Batasi Ekspor Sumber Energi

Pembatasan ekspor gas dan batu bara diperlukan lantaran 2 tahun mendatang Jawa diprediksi bakal mengalami krisis listrik.
Peni Widarti
Peni Widarti - Bisnis.com 02 Oktober 2014  |  17:05 WIB

Bisnis.com, SURABAYA - Pertumbuhan industri di Pulau Jawa yang rata-rata mencapai 12% per tahun memaksa pemerintah untuk segera membatasi ekspor gas dan batu bara yang berlebihan.

Pembatasan ekspor gas dan batu bara diperlukan lantaran 2 tahun mendatang Jawa diprediksi bakal mengalami krisis listrik.

Tulus Abadi, pengamat kelistrikan, menilai pemerintah baru perlu membuat kebijakan terkait ekspor sumber-sumber energi tersebut dan mendorong pembangunan pembangkit listrik.

Selama ini Perusahaan Listrik Negara (PLN) hanya mampu memasok pertumbuhan listrik 6%-8% per tahun atau tidak seimbang dengan pertumbuhan industri yang ada.

"Saat ini Jawa masih aman, tapi 2 tahun lagi bisa krisis kalau tidak ada pembangkit baru, karena pertumbuhan industri begitu cepat. Jadi 2 tahun lagi kita tidak boleh happy-happy," ujarnya usai mengisi Diskusi Publik tentang Kondisi dan Tantangan Kelistrikan Nasional Masa Depan, di Universitas Airlangga, Surabaya, Kamis (2/10/2014).

Dia mengatakan seharusnya pemerintah lebih banyak memasok gas dan batu bara untuk kebutuhan dalam negeri dibandingkan ekspor meski harga yang diperoleh lebih besar.

Adapun komposisi energi gas dan batu bara yang diekspor ada 70% dengan kualitas yang bagus, sedangkan untuk konsumsi dalam negeri adalah 30% dengan kualitas yang rendah.

"Kita harus konsen dengan masalah dalam negeri, apalagi energi fosil akan terbatas, sekian tahun nanti akan habis dan kita tidak bisa mendapatkan lagi. Presiden Jokowi harus berani mengubah kebijakan ekspor, seperti India, China bahkan Amerika tidak pernah mengekspor energinya," jelasnya.

Manager Perencanaan PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur Yogo Riyatmo mengatakan pertumbuhan energi listrik di Jawa Timur tahun ini ditargetkan mencapai 10%, tetapi sampai Agustus 2014 pertumbuhannya hanya 7,63%.

Untuk menggenjot pertumbuhan tenaga listrik, PLN Jatim berencana membangun gardu induk di Mojokerto dengan kapasitas sekitar 120 MVA.

"Ini sedang direncanakan untuk mengantisipasi pertumbuhan soalnya Mojokerto bakal dibangun kawasan industri, intinya saat ini kami sedang menyiapkan infrastruktur dan pasokannya," ujarnya.

Dia menambahkan saat ini wilayah yang aman dalam pasokan listrik yakni Tuban, Probolinggo dan kawasan pantai utara. Sedangkan yang perlu diantisipasi adalah ketersediaan pasokan listrik di Surabaya, Sidoarjo dan Mojokerto.

"Sebetulnya di Jatim neraca dayanya bagus atau surplus, tapi terkendala dengan infarstruktur yaitu gardu induk," imbuh Yogo.

 

Tag : krisis listrik
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top