INDUSTRI KELAPA SAWIT: CPO Kembali Topang Ekspor Nonmigas

Setelah ‘tiarap’ beberapa bulan terakhir akibat krisis harga minyak nabati dunia, performa ekspor minyak sawit mentah kembali bangkit sebagai tumpuan ekspor nonmigas Oktober yang membuahkan surplus neraca perdagangan sebesar US$20 juta.nnNamun, yang perlu diwaspadai, cemerlangnya ekspor crude palm oil (CPO) ditengarai lebih dipicu oleh reli jual di tengah nihilnya besaran bea keluar (BK). Hal itu tercermin dari peningkatan volume ekspor CPO sebesar 45,8% (m-o-m) menjadi 2,47 juta ton pada Oktober.
Wike Dita Herlinda
Wike Dita Herlinda - Bisnis.com 02 Desember 2014  |  12:48 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—Setelah ‘tiarap’ beberapa bulan terakhir akibat krisis harga minyak nabati dunia, performa ekspor minyak sawit mentah kembali bangkit sebagai tumpuan ekspor nonmigas Oktober yang membuahkan surplus neraca perdagangan sebesar US$20 juta.

Namun, yang perlu diwaspadai, cemerlangnya ekspor crude palm oil (CPO) ditengarai lebih dipicu oleh reli jual di tengah nihilnya besaran bea keluar (BK). Hal itu tercermin dari peningkatan volume ekspor CPO sebesar 45,8% (m-o-m) menjadi 2,47 juta ton pada Oktober.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan nilai ekspor CPO pada bulan yang sama mencapai US$2,15 miliar alias naik 29,73% dari pembukuan September. Kenaikan itu adalah yang terbesar di antara 10 golongan barang HS 2 digit pada Oktober.

Adapun, andil ekspor CPO terhadap total ekspor nonmigas RI adalah 14,41% atau terbesar kedua setelah dominasi ekspor batu bara sebesar 14,49% terhadap total penjualan barang non minyak dan gas RI.

“Peningkatan ekspor terbesar terjadi pada lemak dan minyk hewan/nabati sebesar US$495 juta, sedangkan penurunan terbesar terjadi pada bahan bakar mineral alias batu bara sebesar US$198 juta,” jelas Kepala BPS Suryamin awal pekan ini.

Bangkitnya ekspor CPO pada Oktober terjadi di tengah pelemahan harga yang terus berlanjut di bawah rata-rata US$750/metrok ton. Pemerintah pun menetapkan BK pada bulan tersebut sebesar 0%, dan melanjut penihilan untuk periode November dan Desember.

“Rendahnya harga CPO di bawah tingkat ambang batas pengenaan BK mengakibatkan masih tetap dikenakannya BK sebesar 0% untuk periode bulan Desember 2014 untuk CPO dan produk turunannya,“ jelas Dirjen Pedagangan Luar Negeri Kemendag Partogi Pangaribuan.

Saat ini, lanjutnya, terjadi oversuplai di pasar minyak nabati dunia, terutama oleh minyak nabati dari sumber lain sebagai kompetitor CPO. Pemerintah sebelumnya menganjurkan agar pengusaha tidak jor-joran mengekspor CPO di tengah tren tekanan harga.

DIMANFAATKAN PENGUSAHA

Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Fadhil Hasan, di sisi lain, mengaku bahwa penetapan BK 0% untuk produk CPO memang dimanfaatkan oleh pelaku pasar minyak sawit.

Selain itu, imbuhnya, memang terjadi kenaikan permintaan di beberapa negara tujuan ekspor utama, khususnya dari China yang meroket 390% secara volume menjadi 275.850 ton, dan India sebesar 140% menjadi 733.630 ton.

“[Meski BK sudah dinolkan], peluang volume ekspor minyak sawit Indonesia bisa lebih rendah tahun ini jika jika volume ekspor CPO pada masing-masing November dan Desember tidak mencapai 2 juta ton.”

Menurut laporan BPS, ekspor nonmigas Oktober mencapai total US$ 12,88 miliar alias naik 1,80% dibandingkan bulan sebelumnya. Secara kumulatif, ekspor nonmigas Januari-Oktober 2014 menyentuh US$122,19 miliar.

Ekspor nasional secara total pada Oktober bernilai US$15,35 miliar, sedangkan secara kumulatif sepanjang Januari-Oktober nilainya tercatat sebesar US$148,06 miliar. Angka itu turun 1,06% dibandingkan periode yang sama 2013.

Itu berarti total ekspor pada masing-masing November dan Desember harus mencapai minimal US$18,12 miliar untuk dapat mencapai target ekspor US$184,3 miliar pada 2014. Padahal, rata-rata per bulan ekspor RI pada tahun ini hanya sekitar US$14 miliar.

Tag : komoditas, ekspor cpo
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top