SERAPAN BATU BARA 2015: Sektor Industri Jadi Andalan

Kementerian ESDM mengharapkan sektor industri mampu menyerap alokasi batu bara secara maksimum sepanjang 2015 menyusul rendahnya serapan sektor itu pada 2014.
Lukas Hendra TM
Lukas Hendra TM - Bisnis.com 02 Januari 2015  |  13:40 WIB
Angka DMO Diturunkan. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA—Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mengharapkan sektor industri mampu menyerap alokasi batu bara secara maksimum sepanjang 2015 menyusul rendahnya serapan sektor itu pada 2014.

Dirjen Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) R. Sukhyar mengatakan realisasi serapan dari alokasi batu bara domestik (domestic market obligation /DMO) hingga akhir 2014 hanya 76 juta ton.

Padahal, target serapan pemanfaatan batu bara dalam negeri pada 2014 sesuai Keputusan Menteri ESDM No. 2901/K/30/MEM/2013 sebesar 95,55 juta ton. Dari angka itu, sebanyak 85% dialokasikan untuk kebutuhan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), sedangkan sisanya sebesar 15% dialokasikan untuk sektor industri.

Dia menjelaskan adanya selisih sekitar 19,55 juta ton dari target serapan domestik dipicu adanya perkiraan berlebih (overestimated) saat penyusunan alokasi domestik.

Dalam proses penyusunan itu, Ditjen Mineral dan Batubara (Minerba) memberikan alokasi berdasarkan kebutuhan pelaku usaha domestik. “Untuk itu, sektor industri harus  menyerap lebih banyak pada 2015 agar DMO 2015 bisa tercapai,” katanya, Rabu (31/12/2014).

Untuk menghindari adanya perkiraan berlebih, pihaknya menurunkan angka DMO dari seharusnya 110 juta ton menjadi hanya 92 juta ton.

Dari angka itu, alokasi terbesar tetap diberikan kepada BUMN listrik dengan porsi 85% atau sekitar 78,2 juta ton, sementara sisanya sebesar 15% atau sekitar 13,8 juta ton dialokasikan untuk sektor industri.

Selain menurunkan angka DMO 2015, Ditjen Minerba juga melakukan perubahan cara menghitung kebutuhan yakni dengan pemberian alokasi berdasarkan nilai kalorinya.

Pelaku usaha juga meminta batu bara dengan nilai kalori 4000 kkal sehingga Ditjen Minerba akan memberikan alokasinya.“Saya harap, sektor industri bisa memenuhi alokasi itu dengan mencapai komitmen yang telah disepakati,” ujarnya.

Sayangnya, pemerintah telah memutuskan menaikkan produksi batu bara pada 2015 menjadi 460 juta ton dari angka yang telah ditetapkan APBN 2015 sebesar 425 juta ton. Dengan adanya penurunan DMO itu, kuota ekspor bagi komoditas itu pada 2015 akan meningkat dari 360 juta ton menjadi 378 juta ton.

TAMBAHAN PNBP

Sekretaris Ditjen Minerba Paul Lubis sebelumnya mengatakan peningkatan produksi batu bara bertujuan memenuhi permintaan Presiden Joko Widodo yang ingin penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor Minerba bisa bertambah Rp10 triliun pada 2015.

“Presiden minta tambahan PNBP minerba Rp10 triliun untuk tahun depan. Otomatis produksi batu bara harus ditingkatkan dan kita juga harus merevisi target produksi yang nantinya dimasukan ke APBN Perubahan 2015,” katanya. Dengan perubahan itu, target PNBP sektor Minerba pada 2015 akan meningkat dari Rp40,6 triliun menjadi Rp50,6 triliun.

Hanya saja, lanjutnya, kepastian tambahan produksi batu bara 2015 masih akan dibicarakan pada Maret 2015 menjelang penetapan APBN Perubahan 2015 yang dijadwalkan terlaksana Juni 2015.

R. Sukhyar melanjutkan PNBP 2014 dari sektor Minerba hingga 24 Desember 2014 baru mencapai Rp34,2 triliun dari target Rp40,6 triliun. “Penurunan ini disebabkan karena harga rendah. Bayangkan saja, untuk batu bara, harga batu-bara acuan [HBA] hanya US$64 per ton,” tegasnya.

Sumber : Bisnis Indonesia, Jumat (2/1/2015)

Tag : batu bara
Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top