Pengelolaan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan: Adopsi Konsep Sato Umi, Ini Harapan BPPT

BPPT menerapkan konsep pengelolaan, budi daya perikanan, pesisir, kelautan berkelanjutan melalui teknologi produksi perikanan budi daya ramah lingkungan atau Integrated Multi-Trophic Aquaculture (IMTA) yang kemudian diperkenalkan dengan sebutan Sato Umi.
Yulianisa Sulistyoningrum
Yulianisa Sulistyoningrum - Bisnis.com 07 Oktober 2015  |  16:52 WIB
Ilustrasi - salmonfarmscience.com

Bisnis.com, JAKARTA -- Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menerapkan konsep pengelolaan, budi daya perikanan, pesisir, kelautan berkelanjutan melalui teknologi produksi perikanan budi daya ramah lingkungan atau Integrated Multi-Trophic Aquaculture (IMTA).

Konsep yang kemudian diperkenalkan dengan sebutan Sato Umi ini merupakan hasil kerja sama BPPT dengan North Pacific Marine Science Organization, Ministry of Agriculture, Forestry and Fisheries of Japan, dan Fisheries Research Agency of Japan.

"Konsep ini bukan hanya menggunakan pendekatan teknologi, tetapi juga dari sisi sosial, ekonomi dan lingkungan," ujar Kepala Pusat Pembinaan, Pendidikan dan Pelatihan BPPT, Suhendar I Sachoemar dalam workshop internasional di Gedung BPPT, Jakarta, Rabu (7/10/2015).

Konsep itu sudah berhasil diterapkan di Jepang, Filipina dan Guatermala itu dan diharapkan bisa memperbaiki daerah pesisir yang rusak akibat eksploitasi di Karawang (Jawa Barat), Bantaeng (Sulawesi Selatan), Anambas (Kepulauan Riau) dan Tanah Bumbu (Kalimantan Selatan).

Konsep yang diperkenalkan oleh Prof. Tetsuo Yanagi asal Jepang itu mencakup Integrated Multi-Trophic Aquaculture (IMTA) berbasis sistem bioresirkulasi untuk lahan tambak terbengkalai.

"Teknologi IMTA ini meminimalkan limbah organik maupun anorganik berasal dari sisa pakan ikan dan kotoran hewan berupa nitrogen, fosfat, dan lainnya yang selama ini merusak lingkungan pesisir untuk dijadikan sebagai pupuk bagi algae, rumput laut, maupun bakau," papar Suhendar.

Dengan demikian, pengelolaan tambak yang sebelumnya berbasis monospecies diubah menjadi berbasis policulture, di mana satu tambak dimanfaatkan untuk udang, kerang, kepiting atau ikan serta pengembangan algae, rumput laut, dan bakau untuk menetralkan limbah.

Konsep itu sudah diuji di Kabupaten Karawang sejak 2011, di mana tambak digunakan untuk mengembangkan tiga ton per ha ikan nila, serta rumput laut hingga 10 ton per ha, bahkan produksi bakau yang buahnya bisa dijadikan minuman jus.

"Ini adalah pengelolaan ekosistem yang zero-waste yang mengelola limbahnya sendiri sehingga mampu memperbaiki kerusakan lingkungan di lokasi itu," katanya.

Tag : bppt, perikanan budidaya
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top