SUKANTO TANOTO: Industri Kehutanan Mampu Bersaing di Pasar Global

Kalangan pelaku usaha menilai industri kehutanan Indonesia mampu bersaing dengan industri sejenis dari luar negeri di pasar global.
Martin Sihombing
Martin Sihombing - Bisnis.com 21 Desember 2015  |  20:49 WIB
Sukanto Tanoto meresmikan Gedung Tanoto Forestry Information Center di IPB, Senin (21/12/2015) - Bisnis.com/Miftahul Khoer

Bisnis.com, BOGOR -- Kalangan pelaku usaha menilai industri kehutanan Indonesia mampu bersaing dengan industri sejenis dari luar negeri di pasar global.

Chairman Raja Garuda Emas (RGE) Sukanto Tanoto menyatakan, pendapat itu karena industri kehutanan Indonesia dapat dipanen dalam waktu 5-10 tahun sehingga mampu menjadi sektor berkelanjutan (sustainble).

"Adapun industri kehutanan di luar negeri perlu puluhan tahun untuk bisa dipanen," katanya, di Bogor, Senin (21/12/2015) di sela-sela peresmian Tanoto Forestry Information Center (TFIC) di Institut Pertanian Bogor (IPB).

Kondisi tersebut, lanjutnya, menjadikan industri kehutanan nasional mampu berkembang pesat sehingga menjadi pesaing industri di luar negeri. Akibatnya, negara-negara pesaing tersebut memasang hambatan tarif untuk melindungi industri dalam negerinya.

Sukanto mencontohkan, pemerintah Amerika Serikat memasang antidumping terhadap ekspor pulp dan kertas Indonesia ke Negara Adidaya tersebut.

Selain itu, pemerintah Amerika juga menggelontorkan miliaran dolar kepada industri kehutanannya selama krisis 2008-2009 agar dapat melewati masa sulit tersebut.

"Hal itu menunjukkan industri kehutanan berperan penting terhadap pembangunan ekonomi dan penyerapan lapangan kerja," katanya.

Menurut dia, upaya dan kebijakan pemerintah saat ini untuk mendorong perkembangan di industri hilir dalam negeri diyakini akan memberikan dampak positif terhadap perkembangan industri nasional ke depan.

Untuk mewujudknnya, lanjutnya, pemerintah perlu mencari keseimbangan antara pengelolaan lingkungan hidup dan pembangunan ekonomi.

"Kalau semua ditekankan pada lingkungan hidup, kita tidak akan berkembang. Tetapi kalau semua dibabat habis, lingkungan akan rusak jadi harus ada keseimbangan," ujar dia.

Sukanto menambahkan, salah satu hal yang tidak kalah penting dalam membangun industri kehutanan yang berkelanjutan adalah harus dengan melibatkan warga, sebab, masyarakat yang tidak memiliki lapangan kerja akan merambah hutan sebagai mata pencaharian.

"Keseimbangan adalah tantangan pemerintah saat ini, yaitu antara lingkungan, lapangan kerja, dan ekonomi," katanya.

Sementara itu Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kementerian Riset dan Teknologi Muhammad Dimyati menyatakan, hutan lestari mempunyai kontribusi besar kepada masyarakat dan memberi keadilan sejati kepada mahluk hidup di sekitarnya.

Dia menyatakan, hutan lestari tidak dapat terbentuk dengan sedirinya karena ada campur tangan signifikan manusia yang mengelolanya, sehingga terwujud ekosistem yang lestari.

"Hutan memiliki fungsi menyangga kehidupan melalui konservasi tata air, meminimalisasi banjir karena mampu menahan air, menyuburkan tanah, dan menyuplai bahan baku industri," ujarnya.

Menurut Dimyati, luas hutan di Indonesia lebih dari 130 juta hektare (ha), yang mana 2,2 persen atau 1,1 juta ha per tahun menyusut karena berbagai alasan.

Hutan juga berkontribusi bagi kesejahteraan rakyat sehingga perlu ada upaya strategis agar fungsi hutan dapat dapat tetap signifikan.

"Keberadaan TFIC sangat tepat dan strategis. Ini akan menjadi instrumen untuk penelitian dan penyusunan analisa strategis," katanya.

Dimyati berharap, TFIC mampu memperkuat riset IPB dalam meminimalisasi kebencanaan, yaitu kebakaran lahan dan hutan, hidrometrologi, serta gempa dan tsunami.

"TFIC memiliki peran dalam dua klaster kebencanaan ini," katanya.

Dapat menjembatani Menurut Kepala Badan Litbang dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Henry Bastaman, TFIC dapat menjembatani dunia usaha dan kehutanan untuk keberlangsungan kehutanan di Indonesia. Mahasiswa akan dapat akses informasi kehutanan terkini.

"Pemahaman yang baik akan meningkatkan kualitas pengelolaan hutan dalam negeri. Dukungan terhadap pendidikan merupakan investasi masa depan," tutur Henry.

Menurut dia, peningkatan pemahaman terhadap pengelolaan sumber daya alam diharapkan dapat meningkatkan kualitas pengelolaannya ke depan.

Adanya TFIC, tambahnya, diharapkan mendukung secara langsung pengelolaan hutan nasional.

Berbagai persoalan yang lalu, seperti empat bulan selama kebakaran hutan, dapat dirasakan betul bahwa informasi mengenai lapangan masih kurang.

"TFIC diharapkan dapat mendukung pemahaman tentang kehutanan agar informasi yang diperoleh bisa berdasarkan ilmu pengetahuan," kata Henry.

Sumber : ANTARA

Tag : industri kehutanan, sukanto tanoto
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top