Industri Air Minum Kemasan Indonesia Bisa Jadi yang Terbesar di ASEAN

Industri Air Minum Dalam Kemasan Bisa Menjadi Terbesar di Asean
Muhammad Abdi Amna
Muhammad Abdi Amna - Bisnis.com 26 Februari 2016  |  01:43 WIB
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA—Pelaku usaha menilai pertumbuhan industri nasional jauh dari potensi sebenarnya akibat belum sinkronnya kebijakan pemerintah pusat ke daerah serta munculnya regulasi-regulasi yang membebani pengusaha.

Rachmat Hidayat, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Air Kemasan Indonesia (Aspadin), mengatakan saat ini pertumbuhan rata-rata industri air minum dalam kemasan yang mencapai 8% belum mencapai potensi sebenarnya akibat regulasi pemerintah daerah yang belum pro investasi.

“Wewenang pusat di daerah hanya politik luar negeri, pertahanan, keamanan, yustisi, moneter dan fiskal serta agama. Sisanya izin investasi, IMB, domisili, izin lokasi menjadi wewenang daerah. Kemudahan investasi di pusat belum sampai ke daerah,” ujarnya dalam kunjungan ke redaksi Bisnis, Kamis (25/2/2016).

Saat ini, lanjutnya, jumlah industri air minum dalam kemasan di dalam negeri mencapai 700 unit dengan 2.000 merek. Dengan memegang 40% pasar Asean, di era Masyarakat Ekonomi Asean Indonesia dapat menjadi produsen air minum dalam kemasan terbesar.

Total volume produksi air minum dalam kemasan pada tahun lalu tercatat mencapai 24,7 miliar liter dan tahun ini diperkirakan pertumbuhan produksi air minum dalam kemasan dapat mencapai 10% seiring dengan semakin kondusifnya perekonomian nasional.

Dia mengatakan, kekosongan landasan hukum selama Sembilan bulan seperti yang terjadi akibat dicabutnya UU No. 7/2004 tentang Sumber Daya Air oleh Mahkamah Konstitusi tidak boleh terulang. Kendati tidak memengaruhi produksi, kekosongan hukum menahan investasi baru.

“Memang tidak sampai memengaruhi produksi, tetapi dampak secara psikologis terhadap iklim investasi dan usaha nasional sangat besar. Saat ini dengan keluarnya PP No. 121/2015, perusahaan minuman raksasa dari negara tetangga dan Amerika Selatan sudah masuk,” ungkapnya.

Parmaningsih Hadinegoro, Presiden Direktur Aqua Golden Mississipi, mengatakan industri air minum dalam kemasan Tanah Air saat ini bersaing dengan air minum isi ulang yang berkembang begitu cepat dengan volume yang sangat besar.

“Sebenarnya industri air minum dalam kemasan sudah memiliki segmen konsumen sendiri, tetapi yang dikhawatirkan adalah penggunaan botol merek tertentu dalam pemasaran air isi ulang,” tuturnya.

Saat ini, lanjutnya, Danone Aqua telah berinvestasi lebih dari Rp8 triliun dalam 10 tahun terakhir. Dengan 18 unit pabrik Aqua yang menyerap tenaga kerja 12.500 orang, perusahaan hanya tidak memiliki pabrik di Kalimantan dan Papua.

Tag : air minum
Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top