INDUSTRI SEPATU: Pengusaha RI Ikuti Pameran di China

Pengusaha dan perancang sepatu Indonesia berada di Guangzhou, Provinsi Guangdong, Tiongkok untuk mengikuti "The 26 International Exhibition on Shoes and Leather Industry" dan "8th International Footwear Design Competition"
Newswire
Newswire - Bisnis.com 02 Juni 2016  |  12:18 WIB
Pekerja pabrik menyelesaikan proses produksi sepatu. - Ilustrasi/Bisnis.com/WD

Bisnis.com, JAKARTA- Pengusaha dan perancang sepatu Indonesia berada di Guangzhou, Provinsi Guangdong, Tiongkok untuk mengikuti "The 26 International Exhibition on Shoes and Leather Industry" dan "8th International Footwear Design Competition".  

Sekjen Asosiasi Persepatuan Indonesia Binsar Marpaung mengatakan Indonesia sudah dikenal di pasar regional serta internasional.

"Ini yang perlu didukung penuh oleh pemerintah seperti promosi oleh ITPC Kementerian Perdagangan di beberapa negara, dan kemudahan untuk melakukan ekspor, ini yang masih kurang," ucap Binsar seperti dikutip Antara, Kamis (2/6/2016).

Semisal, ujarnya, saat pameran di Prancis belum lama ini, perwakilan Indonesia  mendapatkan pesanan sekitar 300 juta pasang sepatu.

"Kita hanya mampu memproduksi sekitar 35 juta pasang, sisanya didatangkan dari Tiongkok dan Vietnam. Artinya, jika kita gencar melakukan promosi peluang ekspor kita akan semakin besar, berikut kemudahan untuk melakukan ekspor," ungkap Binsa.

Aprisindo  menagih janji pemerintah untuk lebih serius memperhatikan perkembangan industri sepatu dan alas kaki nasional, hingga mampu lebih banyak menembus pasar internasional.

"Terlebih pemerintah sudah menetapkan industri alas kaki sebagai salah satu industri andalan, karena mampu menyerap tenaga kerja banyak serta menghasilkan devisa yang besar pula," kata Binsar.

Tak hanya itu, Aprisindo juga mendesak pemerintah agar mempercepat program hilirisasi bahan baku untuk menekan ketergantungan industri terhadap bahan baku impor.

Hal senada dikemukakan pemilik PT Buccheri Indonesia Edi Yansyah yang mengatakan untuk keperluan ekspor pengusaha masih dihadapkan pada birokrasi yang panjang.

"Pesanan dari mancanegara ada, dan relatif banyak, namun panjangnya proses pengiriman yang memakan waktu hingga tiga bulan menyebabkan pengimpor berpikir ulang. Berbeda pengiriman dari luar negeri ke Indonesia, lebih cepat," ungkapnya.

Edi menambahkan, pengusaha juga dihadapkan pada sulitnya bahan baku kulit untuk industri alas kaki.

"Saat ini mayoritas bahan baku sepatu diekspor ke luar negeri. Jika bahan baku tidak ada, kan kita juga sulit produksi apalagi ekspor. Padahal, peluang ekspor untuk alas kaki Indonesia sangat besar," imbuhnya.

Sedangkan perancang sepatu Yongki Komaladi menegaskan rancangan putra Indonesia tidak kalah dengan rancangan negara lain, terutama karena orisinalitas dan keunikan model yang ditampilkan.

"Era pasar bebas tidak mungkin kita hindari, dan untuk menghadapinya perlu inovasi yang terus menerus, dalam setiap apapun yang kita rancang, apakah itu sepatu, tas dan pakaian. Keunikan dan orisinalitas produk alas kaki Indonesia atau produk unggulan lain, membuka peluang ekspor lebih besar," tuturnya.

Yongki menambahkan Indonesia memiliki beragam budaya yang dapat menjadi sumber inspirasi dalam berkarya, sumber inovasi yang akan akan dikembangkan dalam  rancangan, termasuk sepatu.

Berdasarkan catatan Kementerian Perindustrian, penciptaan devisa oleh industri alas kaki pada 2015 sebesar US$4,11 milar atau 2,33% dari total ekspor nasional pada 2014. Dari sisi lapangan kerja, industri ini menyumbang lapangan Kerja sebanyak 643.000 orang yang setara dengan 4,21% dari tenaga Kerja industri manufaktur.

Selain itu, pangsa pasar produk alas kaki buatan Indonesia di pasar dunia sebesar 2,85% pada 2014 dan menduduki peringkat enam besar setelah Tiongkok, Italia, Vietnam, Jerman dan Belgia. Hal ini memperlihatkan bahwa industri alas kaki Indonesia mempunyai peluang yang besar untuk terus meningkatkan ekspor.

 

Tag : industri sepatu
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top