Dibayangi PHK Sektor Migas, Medco E&P: Kami Pilih Opsi Bertahan Hidup

PT Medco E&P Indonesia memastikan belum melakukan pemutusan hubungan kerja atau PHK terhadap karyawan meski saat ini perusahaan sedang terpuruk akibat dampak anjloknya harga minyak mentah.
Dinda Wulandari
Dinda Wulandari - Bisnis.com 02 Juni 2016  |  16:16 WIB
Ilustrasi

Bisnis.com, PALEMBANG - PT Medco E&P Indonesia memastikan belum melakukan pemutusan hubungan kerja atau PHK terhadap karyawan meski saat ini perusahaan sedang akibat dampak anjloknya harga minyak mentah.

Manager of PA-Security Indonesia West PT Medco E&P Indonesia Sutami mengatakan perseroan masih bertahan dengan melakukan sejumlah efisiensi untuk menekan pengeluaran sehingga belum mengambil opsi PHK.

"Dalam dua tahun terakhir sudah banyak KKKS (kontraktor kontrak kerja sama) melakukan PHK. Kalau Medco sendiri masih menerapkan seni untuk bertahan hidup, belum melakukan ya [PHK]," katanya di sela-sela workshop industri Hulu migas bersama media Kota Palembang, Kamis (2/6/2016).

Menurutnya, efisiensi yang diterapkan adalah merampingkan struktur pimpinan perusahaan. Seperti di Sumsel, yang sebelumnya memiliki tiga manajer untuk mengurus tiga blok, saat ini hanya satu saja.
Dia menambahkan selain efisiensi di internal perusahaan, Medco juga berupaya maksimal untuk mempertahankan produksi dalam kaitannya merespon rendahnya harga minyak mentah.

"Kondisi hulu migas dalam dua tahun ini sedang terpuruk, atau ibarat roda sedang berada di bawah. Tapi terlepas dari kondisi ini, ada sisi positif yang masih dapat diambil yakni membuat Medco semakin terpacu meningkatkan produksi dan efisiensi dalam penggunaan anggaran," ujarnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Refominer Institute Komaidi Notonegoro, mengatakan sejumlah perusahaan migas yang beroperasi di Tanah Air sudah banyak melakukan PHK.

Berdasarkan catatan lembaga itu, kata dia, KKKS yang melakukan seperti a.l Chevron sebanyak 7.000 pegawai, Shell 6.500 pegawai, Total 2.000 pegawai, British Petroleum (BP) 1.000 pegawai dan ConocoPhillips Indonesia sebanyak 1.800 pegawai.

Namun demikian, Komaidi mengatakan, kondisi bisnis hulu migas diharapkan bisa membaik pada Semester II/2016.

"Harapannya harga minyak dunia bisa stabil di angka US$50 per barrel dengan demikian pelaku usaha bisa menutupi ongkos produksi yang sekitar US$30--US$40 per barrel," katanya.

Tag : medco
Editor : Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top