Industri Jamu Tumbuh Pesat

Industri Jamu di berbagai daerah di Jawa Timur mengalami pertumbuhan yang pesat berkat dukungan dan dorong Gubernur Jawa Timur, Soekarwo terhadap eksistensi usaha industri yang dapat menunjang taraf kesehatan masyarakat setempat.
Martin Sihombing
Martin Sihombing - Bisnis.com 02 Agustus 2016  |  12:38 WIB
Industri Jamu di berbagai daerah di Jawa Timur mengalami pertumbuhan pesat. - Bisnis

Bisnis.com, DENPASAR -  Industri Jamu di berbagai daerah di Jawa Timur mengalami pertumbuhan yang pesat berkat dukungan dan dorong Gubernur Jawa Timur, Soekarwo terhadap eksistensi usaha industri yang dapat menunjang taraf kesehatan masyarakat setempat.

"Dorongan dan kemudahan dari gubernur itu antara lain ditandai izin lokasi atau domisili untuk para penggiat industri jamu," kata Ketua Dewan Pimpinan Daerah Gabungan Pengusaha (DPD GP) Jamu Jawa Timur, Minarni Purnomo,  di Denpasar, Selasa (2/8/2016).

Ia berada di Denpasar, Bali serangkaian menghadiri Gerakan Nasional Minum dan Cinta Jamu Indonesia yang dihadiri sebagian besar pengurus DPD GP Jamu dari berbagai daerah di Indonesia.

`"Sebagai ketua GP Jamu Jatim, kami tidak merekrut anggota baru karena pihak terkait dari Dinas Kesehatan Jatim dan Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) membuka jalan bagi anggota baru yang ingin bergabung ke DPD GP Jamu Jatim dan kami menerima mereka," katanya.

Dinas Kesehatan selama ini juga intensif melakukan sosialisasi dan mengadakan lokakarya yang menyangkut usaha dan prospek jamu. Selain itu perpanjangan izin soal edar produk juga dimudahkan.

"Jika semua persyaratan sudah terpenuhi pengurusannya hanya membutuhkan waktu sehari. Bila ingin membangun usaha, izin bangunan sudah bisa didapat dalam waktu tiga hari,"jelas Minarni.

Di Jawa Timur hingga kini tercatat 125 anggota pengusaha jamu. Namun yang aktif hanya sekitar 80 pengusaha. Semua pengusaha yang terdaftar itu dijamin sepenuhnya untuk tidak menggunakan bahan kimia obat.

Hal itu, antara lain terdapat seorang pengusaha yang menggeluti profesi tersebut masih aktif sebagai anggota polisi dan apoteker.

"Jadi dari dua sisi keamanan produk-produk jamu sudah bisa langsung terkontrol dengan baik," ujarnya.

Menjawab pertanyaan terkait potensi tanaman herbal di Jawa Timur, Minarni menyatakan, sesuai data Dinas Pertanian , tercatat sembilan jenis tanaman obat yang dibilang empon-empon yang memang sudah diintensifkan.

Semua itu masih ada kekurangan seperti jahe yang ditanam bukan jahe emprit namun jahe gajah. Jahe jenis itu untuk bahan jamu kurang pas karena kurang pedas.

Selain itu, ada tanaman liar yang terus menerus diambil sehingga menjadi langka. Untungnya ada Balai Materia Medika di Kota Batu dan juga bisa dapat bahan baku dari Tawang Mangu BPTO. Cuma karena taman liar yang diambil sebelum berbunga akhirnya jadi langka, kata Minarni.

Ia mengakui, saat ini industri jamu cukup sulit untuk berkembang karena aturan pemerintah yang cukup ketat. Awalnya dari industri rumah tangga dan sekarang diubah dulu ke IKOT.

Sekarang harus ada UKOT dan UMOT, dan industri besar IOT atau IEBA khusus untuk ekstrak. Tadinya IKOT bisa naik jadi UKOT atau turunmenjadi UMOT tergantung bentuk sediaan.

"Saat itu bagi penggiat industri jamu cukup berat dirasakan karena harus memenuhi persyaratandari CPOTB. Itu semua tidak mudah karena SDM harus memenuhi syarat, selain dana yang dibutuhkan lumayan besar," sebut Minarni.

Sebagai pemilik salah satu industri herbal di Kota Surabaya, Minarni mengakui bahwa dirinya masih cukup sulit untuk memasarkan produk di tengah persaingan yang semakin ketat.

Untuk menitipkan barang di toko-toko obat, barang harus dikenal dulu oleh masyarakat. Biasanya, pemilik toko menanyakan barang itu sudah diiklankan di media apa.

Awalnya, lanjut Minarni, produk miliknya dijual melalui dokter praktek karena tidak memiliki sumber daya manusia yang handal dalam pemasaran.

Hanya saja, sekarang paramedis tidak boleh menyediakan obat di rumah atau di tempat praktek mereka, meski produk yang dititipkan tersebut merupakan produk jamu atau herbal, dan makanan kesehatan.

"Dulu dokter masih menyediakan produk kami tapi sekarang tidak bisa karena ada peraturan," tegas pemilik PTJamu Cap Nyonya Mipis.

Perusahaan yang berlokasi di Kota Surabaya itu sudah memproduksi 15 item produk kesehatan dengan kemasan cukup elegan yakni berbentuk botol . Dari ke-15 item produk yang dipasarkan tersebut yang menjadi produk unggulan adalah Renatin dan Pronafit. Kedua produk itu sudah bisa didapat di Apotik Century dan Guardian.

Sumber : ANTARA

Tag : jamu, industri jamu
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top