Impor Daging Direlaksasi, Importir: Harga Tetap Sulit ke Rp80.000

Kendati pemerintah telah membuka lebar keran impor daging jenis potongan sekunder (secondary cut), kalangan importir swasta tetap pesimistis harga daging yang dikonsumsi konsumen dapat terkerek hingga Rp80.000 per kilogram.
Dara Aziliya
Dara Aziliya - Bisnis.com 02 Agustus 2016  |  20:15 WIB
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA – Kendati pemerintah telah membuka lebar keran impor daging jenis potongan sekunder (secondary cut), kalangan importir swasta tetap pesimistis harga daging yang dikonsumsi konsumen dpat terkerek hingga Rp80.000 per kilogram.

Ketua Asosiasi Importir Daging Indonesia (Aspidi) Thomas Sembiring menyampaikan jenis daging yang selama ini dikonsumsi mayoritas masyarakat yaitu daging paha, harganya sudah cukup tinggi dan sulit dikerek hingga Rp80.000 per kilogram.

“Memang aturannya direlaksasi, tapi harganya harus di bawah Rp80.000. Itu artinya hanya item tertentu yang memenuhi syarat harga itu. Harga daging paha belakang itu modalnya saja bisa hampir Rp80.000,” ujar Thomas saat dihubungi Bisnis.com, Selasa (2/8/2016).

Adapun, ketetapan harga daging konsumsi sebesar Rp80.000 tersebut merupakan instruksi dari Presiden Joko Widodo pada Mei lalu. Dia menginginkan seluruh lapisan masyarakat dapat mengakses protein hewani dari daging sapi.

Merespons instruksi tersebut, Kementerian Pertanian merevisi Permentan 58 tahun 2015 menjadi Permentan 34/2016. Dalam beleid terbaru itu, Kementan membuka impor jeroan dan merelaksasi aturan impor daging potongan sekunder untuk swasta. Sebelumnya, importir hanya diperbolehkan mengimpor daging premium.

Selain itu, pemerintah pun membuka pasar becek bagi para importir yang selama ini hanya mengakses industri dan sektor horeka (hotel, restoran, katering). Pemerintah juga tidak menetapkan kuota impor, dan pengajuan rekomendasi dapat dilakukan sepanjang tahun.

Tag : impor daging, impor daging
Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top