Pelaku Industri Pengendalian Hama Adakan Pest Summit 2016

Para pelaku industri pengendalian hama di dunia tengah berkumpul untuk mempelajari temuan atau penelitian terbaru untuk membasmi vektor penyakit. Indonesia sendiri dinilai belum bisa terbebas dari penularan penyakit, seperti yang disebabkan oleh binatang.
Arys Aditya
Arys Aditya - Bisnis.com 19 Agustus 2016  |  18:45 WIB
Fogging untuk pencegahan demam berdarah. - Ilustrasi/Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Para pelaku industri pengendalian hama di dunia tengah berkumpul untuk mempelajari temuan atau penelitian terbaru untuk membasmi vektor penyakit. Indonesia sendiri dinilai belum bisa terbebas dari penularan penyakit, seperti yang disebabkan oleh binatang.

“Kami akan meng-update informasi yang perlu kita ketahui dari para ahli di lapangan, termasuk teknologi dan pengalaman yang relevan untuk kita dapat implementasikan di Indonesia,” kata Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pengendalian Hama Indonesia (ASPPHAMI) Boyke Arie Pahlevi dalam keterangan tertulis, Jumat (19/8/2016).

Boyke memaparkan saat ini permasalahan penyakit menular yang disebabkan oleh vektor penyakit di Indonesia masih sangat tinggi, baik itu yang disebabkan oleh nyamuk, tikus, kecoa dan lalat.

Dia menyebutkan salah satu masalah yang perlu mendapat perhatian adalah terkait pencegahan dan pemberantasan penyakit menular demam berdarah dengue (DBD) yang sampai saat ini masih saja terjadi sejak 1968.

“Kami sebagai pelaku usaha dalam industri pengendalian hama terus berupaya meningkatkan pengetahuan untuk mencegah dan memberantas vektor penyakit yang mengganggu kesehatan masyarakat,” ungkap Boyke.

Menurutnya, saat ini pemahaman dan kesadaran masyarakat Indonesia akan pentingnya pengendalian hama masih sangat minim.

Di sisi lain, pengguna jasa pengendalian hama di Indonesia masih didominasi sektor swasta dan kantor pemerintah pusat, dalam persentase berkisar mencapai 90% mencakup hotel, apartemen, rumah sakit, gedung perkantoran, restoran, developer, kantor pemerintah pusat, kementerian dan lainnya.

Sementara itu, untuk sektor rumah tangga dan pemerintah daerah provinsi dan kabupaten/kota jarang sekali menggunakan jasa pengendalian hama dan hanya berkisar 5%-10%.

“Padahal inilah presentasi paling tinggi penularan vektor penyakit Demam Berdaran Dengue (DBD), terutama di lingkungan pemukiman masyarakat” ungkap Boyke.

Dia mengatakan perkembangan industri pengendalian hama di Indonesia saat ini sudah cukup baik, para pelaku usaha pengendalian hama di Indonesia sudah menjalankan konsep metode pengendalian hama terkini yang disebut dengan Integrated Pest Management, yang mengedepankan pengendalian hama secara terpadu dengan penggunaan pestisida sebagai alternatif terakhir.

“Sumber daya manusia industri pengendalian hama sudah didukung dengan kompetensi dan sertifikasi. Kami harapkan masyarakat dan pemerintah bisa lebih memahami pentingnya keterlibatan swasta untuk meningkatkan mutu lingkungan demi kesehatan masyarakat yang lebih baik,” kata Boyke.

ASPPHAMI bersama dengan Asosiasi Perusahaan Pengendalian Hama Singapore (SPMA), Malaysia (PCAM), Philippines (PCAP) dan Thailand (TPMA) menyelenggarakan Pest Summit 2016 pada 18-20 Agustus 2016 di Resords Worlds Sentosa, Singapura, dengan mengambil tema Towards a Viable Pest Management Through Productivity, Innovation & Green Technology.

Acara ini diselenggarakan setiap dua tahun dan akan diselenggarakan secara rotasi di antara negara-negara anggota. Pest Summit 2016 adalah penyelenggaraan ke-7 sejak pertama kali dilaksanakan pada 2004.

Selain dihadiri oleh para profesional pengendalian hama, Pest Summit juga dihadiri para pemasok bahan kimia dan peralatan, peneliti, akademisi, pejabat pemerintah dan delegasi lainnya untuk berbagi temuan penelitian terbaru dan teknologi terbarukan.

Acara ini diikuti oleh kurang lebih 650 peserta dari asia tenggara dan 40 peserta pameran dari Amerika Serikat, Jepang, Jerman, Australia, China dan lainnya.

Tag : pest summit 2016
Editor : Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top