Penghitungan Tarif Interkoneksi Bergantung Teknologi Terbaru VoLTE

Perhitungan tarif interkoneksi berbasis Internet Protocol (IP Based) akan bergantung dengan teknologi terbaru dalam industri telekomunikasi yakni Voice Over Long Term Evolution (VoLTE) dan Rich Communication Suite (RCS).
Agnes Savithri
Agnes Savithri - Bisnis.com 25 Agustus 2016  |  02:29 WIB
Menara telekomunikasi - Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - Perhitungan tarif interkoneksi berbasis Internet Protocol (IP Based) akan bergantung dengan teknologi terbaru dalam industri telekomunikasi yakni Voice Over Long Term Evolution (VoLTE) dan Rich Communication Suite (RCS). Sehingga nantinya batasan dari layanan suara bukan lagi menit, tetapi besaran data.

Direktur/Chief Service Management Officer XL Axiata Yessie D Yosetya mengungkapkan implementasi perhitungan tarif interkoneksi berbasis IP masih belum bisa diterapkan saat ini. Pasalnya, masih belum ada operator yang mengkomersialkan layanan VoLTE dan RCS di Indonesia.

“IP Based akan sangat erat dengan teknologi terbaru yakni VoLTE dan RCS karena saat itu yang diinterkoneksikan bentuknya data melalui layanan suara. Sehingga barrier dari layanan suara merupakan data. Tetapi Indonesia masih belum bisa ke arah sana karena belum ada yang mengkomersialkan layanan dan masih terbatas dengan perangkat,” paparnya Rabu (24/8/2016).

Kendati demikian, Yessie mengungkapkan pihaknya sudah beberapa kali melakukan uji coba layanan VoLTE dan RCS. “Pada saat device yang mendukung kedua teknologi tersebut sudah lebih murah, maka akan ada pembahasan lebih lanjut terkait interkoneksi berbasis IP,” tambah Yessie.

Rampungnya perhitungan tarif interkoneksi berbasis circuit switch memunculkan wacana baru yakni penerapan interkoneksi berbasis Internet Protocol (IP Based). Penerapan IP Based dinilai akan menguntungkan konsumen karena kualitas layanan yang baik dan harga yang terjangkau.

Dalam kesempatan yang berbeda, Anggota Komite Bidang Hukum Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) I Ketut Prihadi Kresna mengungkapkan tidak menutup kemungkinan pembahasan ke arah IP Based. Pasalnya, beberapa negara pun sudah mulai menerapkan sistem perhitungan ini.

“Saat ini kan masih circuit switch, mulai ada pembahasan mengarah ke sana (IP Based). Sekarang kan sudah terbiasa dengan besaran menit. Sedangkan hitungan besaran IP Based mengunakan kilobyte dan megabyte. Tetapi ada hitungan yang bisa dikonversikan ke menit,” paparnya kepada Bisnis.

Prihadi menjelaskan perhitungan ini nantinya memang dibutuhkan terutama saat implementasi Voice Over LTE (VoLTE). Tetapi karena masyarakat sudah terbiasa dengan menit, bisa saja hadir opsi perhitungan yang sudah dikonversi menit.

“Tetapi sekarang yang namanya jasa telepon selular masih berbasis circuit switch. Namun, nantinya jika revisi PP 52/2000 rampung. Maka, regulasi yang membahas circuit switch tidak ada, sehingga perhitungan IP Based pun bisa dilakukan,” tambahnya.

Selain revisi PP 52/2000 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi, perubahan pun harus dilakukan dalam Fundamental Technical Plan (FTP). Seperti namanya, FTP merupakan dasar dari semua operasional telekomunikasi. Sedangkan semua layanan yang berbasis IP membutuhkan perubahan.

Prihadi mencontohkan panggilan Sambungan Langsung Jarak Jauh (SLJJ). Jika nantinya akan ada penerapan IP based, maka harus dikaji lebih lanjut dampak ke depannya.

Adapun dari sisi konsumen, Prihadi menjelaskan dampaknya akan positif karena kualitas panggilan pasti akan lebih bagus. “Kualitas pasti akan lebih bagus, dari sisi manfaat yang diterima pun pasti lebih bagus karena bisa mendapatkan harga yang lebih murah. Tetapi hierarki jaringannya harus dibicarakan lagi,” ungkapnya.

Tag : telekomunikasi
Editor : Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top