Ini Alasan Bulog Bali Baru Serap Beras Petani 42% dari Target 5.000 Ton

Serapan beras petani oleh Bulog Divre Bali baru mencapai 2.115 ton atau hanya 42% dari target 5.000 ton disebabkan belum ada titik temu soal harga pembelian dengan perusahaan penggilingan padi.
Feri Kristianto
Feri Kristianto - Bisnis.com 25 Agustus 2016  |  02:00 WIB
Pedagang menyortir beras sebelum didistribusikan di Pasar Induk Cipinang Jakarta. - Ilustrasi/Bisnis/Dwi Prasetya

Bisnis.com, DENPASAR - Serapan beras petani oleh Bulog Divre Bali baru mencapai 2.115 ton atau hanya 42% dari target 5.000 ton disebabkan belum ada titik temu soal harga pembelian dengan perusahaan penggilingan padi.

Bulog Bali beralasan hanya memiliki kemampuan membeli gabah kering panen Rp3.750 per kg, dengan toleransi pembelian gabah di atas ketentuan‎ yang diatur, maksimal Rp4.070 per kg. Adapun Persatuan Perusahaan Penggilingan Padi (Perpadi) Bali berdalih harga gabah di pasaran sudah mencapai Rp4.500 per kg- Rp4.600 per kg sehingga enggan menjual ke Bulog.

Kepala Bulog Divre Bali Eko Hari Kuncahyo‎ mengklaim sejak awal pihaknya sudah proaktif mendekati petani langsung ke sentra produksi untuk menyerap hasil panen mereka. Hanya saja diakui, pihaknya kesusahan memenuhi permintaan penggilingan terkait harga, karena lebih tinggi dibandingkan patokan Bulog.

Ada peluang Bulog Divre Bali memenuhi permintaan penggilingan dengan cara seperti mengusulkan tambahan subsidi ongkos angkut, dengan syarat Bulog pusat memberikan persetujuan. Jika upaya itu tidak direstui, maka pihaknya menggunakan mekanisme yang ada atau pembelian komersial.

"Ada toleransi melakukan pembelian gabah diatas ketentuan inpres, yaitu, Rp4.070 per kg dengan mekanisme pembelian komersial jadi beras digiling dalam bentuk komersial beras premium," paparnya usai rapat pembahasan penyerapan padi oleh Bulog di Denpasar, Rabu (24/8/2016).

Namun, jika usaha itu tetap tidak membuahkan hasil, dan penggilingan ngotot meminta harga beli di atas pasar, pihaknya akan menanyakan kualitas berasnya, dan melakukan uji giling serta survei lokasi. Jika memenuhi ketentuan, akan diupayakan untuk diserap, jika tidak maka pihaknya melakukan pendekatan lagi.

"Istilahnya memohon kepada mereka agar ini ada tanggung jawab bersama untuk ketahanan stok bersama," tuturnya.

‎Ketua Perpadi Bali Anak Agung Suwetan menyatakan pada dasarnya mereka siap mengisi kekurangan stok beras untuk ketahanan pangan. Hanya saja, mereka meminta Bulog lebih realistis menawarkan harga, karena kondisi sekarang harga gabah di tingkat penggilingan sudah sekitar Rp4.600 per kg.

Dia menegaskan patokan harga Bulog tidak berlaku di pasar, melainkan hanya di tingkatan aturan tertulis.‎ Perpadi menyatakan prihatin dengan daya serap Bulog, tetapi meminta memperhatikan produsen beras yang tidak mengambil untung besar. Adapun dana bantuan dari pemda, menurutnya, untuk berjaga-jaga ketika panen raya supaya tidak terjadi penurunan harga.

"‎Kami tidak ada harga mati untuk Bulog, kami tidak punya HPP. Kami sesuai pasar kalau semakin mahal beras ya mahal. Kalau mau ikuti itu ya kita harus itung-itungan," tekannya.

Menanggapi kondisi tersebut, ‎Kadis Pertanian dan Tanaman Pangan Bali Ida Bagus Wisnuardhana mengultimatum kepada Perpadi Bali untuk membuat komitmen secara tertulis terkait harga. Dia menyatakan siap memberikan sanksi kepada anggota Perpadi jika tidak mau membantu Bulog, karena pihaknya juga akan dikenai sanksi apabila tidak mampu merealisasikan.

‎"Minggu ini saya minta ada komitmen hitam di atas putih. Saya minta tanggung jawab moral, dan kami evaluasi juga, kalau tidak mau bantu kami punishment bisa kurangi jatah‎," jelasnya.‎

Sementara itu, dalam sambutannya, Staf ahli Menteri Pertanian Bidang Inovasi dan Teknologi Pertanian Mat Syukur menilai sangat ironis apabila Bulog Divre Bali hingga akhir tahun tidak mampu membeli beras sesuai jumlah yang patok, padahal kapasitas penyerapannya hanya sekitar 1% dari total produksi 500.000 ton.

‎"Masa iya sih 5.000 ton saja tidak bisa? Beras produksi bali 500.000 ton, untuk stok hanya perlu 5.000 ton saja, itu 1%. Masa iya Bulog tidak bisa mengisi stok," ujarnya saat memberikan pernyataan.

Dia memaparkan pembelian itu sangat penting, karena nantinya beras yang dibeli dikembalikan untuk program rumah tangga sejahtera dan operasi pasar di Bali. Karena itu, lanjutnya, apabila beras yang kembali dinikmati petani kualitasnya kualitasnya tidak bagus karena berbagai hal tadi, maka lebih naif lagi.

Mat Syukur menyatakan pembelian beras oleh BUMN penyangga pangan tersebut harus direalisasikan, karena akan digunakan sebagai setok bahan pangan. Rendahnya penyerapan harus segera dicarikan solusi bersama-sama agar rencana jangka panjang pemerintah tidak mengimpor beras dapat terwujud.

Bulog Bali dan Persatuan Perusahaan Penggilingan Padi (Perpadi) Bali diminta segera mencari titik temu harga pembelian yang cocok. Jangan sampai upaya pemerintah pusat, memberikan bantuan berupa alat pertanian, subsidi pupuk hingga perlindungan asuransi padi demi mewujudkan swasembada tidak menuai hasil, hanya disebabkan‎ selisih harga Rp300-Rp400, membuat petani enggan menjual ke penyangga stok.

‎"Yang ingin saya katakan bahwa setok pangan nasional harus kuat. Kalau sampai impor, artinya kita tergantung negara lain. Supaya tidak impor setok Bulog Divre harus kuat, dan untuk Bali sebenarnya hanya 1%," tuturnya.

‎Untuk itu, dirinya mendesak petani dan Bulog mencari solusi terbaik agar sama-sama untung dan pemerintah pun dibantu demi pengadaan beras. Perpadi diharapkan juga memahami tugas pemerintah, dan tidak hanya memikirkan aspek finansial saja, karena juga mendapatkan bantuan kemudahan dana dari pemerintah.

Tag : bulog
Editor : Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top