Kemendes Ingin Produk Cokelat Gunung Kidul Masuk Mal

Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) berharap cokelat lokal merek Gun-Kid asal Gunung Kidul, Yogyakarta dapat masuk mal.
Muhammad Khadafi
Muhammad Khadafi - Bisnis.com 02 Oktober 2016  |  16:05 WIB
Foto ilustrasi cokelat - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) berharap cokelat lokal merek Gun-Kid asal Gunung Kidul, Yogyakarta dapat masuk mal.

Hal itu disampaikan oleh Direktur Jenderal Pembangunan Kawasan Perdesaan Kemendes PDTT Johozua Markus Yoltuwu dalam kunjungannya ke Dusun Gambiran, Desa Bunder, Gunung Kidul, Yogyakarta.

“Kami akan bicara dengan [Kementerian] Perindustrian sehingga pengolahan kakao ini ada standar. Tidak hanya untuk konsumsi di lokal, tapi juga mulai mengarah ke mal dan supermarket,” ujar Johozua saat mengunjungi dusun penghasil cokelat Gun-Kid, Sabtu (1/10/2016).

Johozua mengatakan Kemendes PDTT akan membantu sosialisasi merek Gun-Kid dan juga membantu meningkatkan kompetensi masyarakat dalam mengelola kakao.

Pemasaran akan mulai dilakukan dengan memanfaatkan Jaingan Informasi Desa (JID) yang saat ini sudah dipasang percontohannya di 190 desa di Jawa Barat.

Selain itu Kemendes PDTT juga akan memberikan bantuan berupa teknologi pengupasan kakao, sehingga dapat meningkatkan kapasitas produksi.

Sebab jika sosialisai merek berhasil tentu akan menghasilkan peningkatan permintaan yang tentu perlu diiringi dengan peningkatan produksi.

“Mengupas manual satu kilogram itu butuh satu jam. Kalau pakai teknologi pengupas, bisa kira-kira lima menit atau tiga menit,” jelasnya.

Diketahui, Desa Bunder saat ini tengah memfokuskan diri untuk mengolah kakao menjadi barang jadi guna meningkatkan nilai tambah.

Ada empat kelompok tani yang tergabung dalam pengembangan usaha tersebut, yakni Kelompok Tani Sidoadi, Kelompok Tani Ngudi Subur, Kelompok Tani Ngudiraharji II, dan Kelompok Tani Sarimulyo.

Ketua Kelompok Tani Paryanto mengaku pengolahan kakao menjadi cokelat siap konsumsi telah meningkatkan omzet hingga 60%.

Tag : kakao
Editor : Setyardi Widodo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top