Produksi RIG PDSI Naik 11%

PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI), anak perusahaan PT Pertamina (Persero) mencatat produktivitas rig mencapai 48,3% di sepanjang tahun lalu. Capaian produksi ini naik 11% dibandingkan dengan 2015 yang sempat mencapai 43,4%.
Gemal AN Panggabean
Gemal AN Panggabean - Bisnis.com 13 April 2017  |  07:19 WIB
Pompa angguk milik Unit Bisnis Pertamina EP Sangasanga Tarakan di sumur minyak Juata, Tarakan, Kalimantan Timur. - JIBI

Bisnis.com,JAKARTA-- PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI), anak perusahaan PT Pertamina (Persero) mencatat produktivitas rig mencapai 48,3% di sepanjang tahun lalu. Capaian produksi ini naik 11% dibandingkan dengan 2015 yang sempat mencapai 43,4%.

Tren kinerja PDSI pada 2016 mengalami rebound setelah sempat jatuh sebagai dampak kelesuan industri karena harga minyak mentah yang masih volatile. Lelin mengatakan hal tersebut berpengaruh positif terhadap laba bersih perusahaan.

Laba bersih PDSI meningkat dari semula US$2,6 juta pada 2015 menjadi US$8,7 juta pada 2016. Di sisi lain, hal yang cukup membanggakan adalah penurunan angka TRIR dari semula 0,98 menjadi 0,53.

Presiden Direktur PDSI Lelin Eprianto mengatakan pihaknya melakukan berbagai terobosan penting untuk tetap mempertahankan pertumbuhan usaha di tengah lesunya industri minyak dan gas bumi global.

“Dengan pencapaian itu, PDSI optimistis terhadap prospek bisnis perusahaannya dengan terus melakukan investasi rig baru. Ini tentu sangat membanggakan karena PDSI tetap tumbuh kendati kondisi harga minyak mentah masih di level yang rendah,” kata Lelin, Rabu (12/4).

Lelin mengatakan PDSI terus melakukan berbagai terobosan penting untuk bisa bertahan bahkan tetap mempertahankan pertumbuhan. Beberapa terobosan yang dilakukan di antaranya penggunaan rig dengan teknologi robot yang memiliki produktivitas serta dengan kehandalan dan standard safety yang tinggi.

Dengan penggunaan rig berteknologi terbaru (rig walking dan skidding), perpindahan rig dapat dilakukan dengan cepat sehingga lebih efisien dan produktif. Terobosan lainnya adalah pemanfaatan Pusat Logistik Berikat (PLB) yang berhasil menghemat sekitar 7% dari biaya material.

“PLB sangat berperan untuk efisiensi bagi PDSI. Dengan PLB, barang yang semula kami datangkan dari Amerika Serikat, harus mampir dulu ke Dubai maupun Singapura, walaupun Singapura bukan produsen migas. Dengan PLB, cost of material turun sekitar 6%-7%.”

PDSI merencanakan investasi sebesar US$45,73 juta dengan 78,1% pada tahun 2017. Dana ini akan dikucurkan untuk pengadaan peralatan pemboran dan untuk pengembangan bisnis dan peralatan Health Safety Security and Environment.

Tag : eksplorasi migas
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top