Maluku Utara Butuh Pelabuhan Terintegrasi

Global Enterpreneur (Genpro), komunitas pengusaha Muslim memberikan saran tentang pentingnya Maluku Utara memiliki pelabuhan terintegrasi untuk proses ekspor impor.
Puput Ady Sukarno
Puput Ady Sukarno - Bisnis.com 19 April 2017  |  00:37 WIB
Aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Kijang yang dikelola PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) I Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, Selasa (11/4). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA - Global Enterpreneur (Genpro), komunitas pengusaha muslim menyarankan, bahwa pentingnya Maluku Utara memiliki pelabuhan terintegrasi untuk proses ekspor impor.

Hal tersebut disampaikan oleh Presiden Global Entrepreneurs Profesional (GenPro) Iwan Kurniawan, disela acara 1st North Maluku International Business Forum, seperti siaran pers yang diterima Bisnis, Selasa (18/4/2017).

Menurutnya, selama ini produk-produk Malut yang akan diekspor mesti melewati pelabuhan transit lainnya di Indonesia sehingga biayanya tidak cukup efektif. "Kita akan lakukan sinergi dan intens berkomunikasi dengan Pemprov," kata Iwan.

Namun demikian, pihaknya juga mengingatkan bahwa meskipun banyak produk Malut yang bisa diekspor, tapi masih banyak yang memerlukan peningkatan standar sesuai regulasi nasional dan internasional.

Kadis Perindag Provinsi Maluku Utara sekaligus Ketua Panitia Eksekutif The 1st North Maluku International Business Forum, Asrul Gailea menambahkan Maluku Utara memiliki sejarah perdagangan rempah yang potensial, sehingga hubungan dengan dunia luar harus terbuka.

Selama ini banyak produk-produk Maluku Utara langsung diekspor tanpa harus melalui pelabuhan singgah di Makassar atau Singapura. Kelebihan ini membuat peluang ekspor produk Maluku Utara semakin besar. Pihaknya membenarkan, bahwa saat ini jalur pelabuhan belum terintegrasi.

"Kita targetkan punya pelabuhan terpusat sehingga bisa membesarkan ekonomi Malut. Termasuk kita harus pusatkan satu bandara internasional," ujarnya.

Gubernur Maluku Utara Abdul Gani Kasuba menginginkan agar Maluku Utara, sebagai provinsi yang cukup muda dapat sejajar dengan daerah lain dalam bidang ekonomi.

"Saya ingin agar kita keluar. Jangan hanya berkutat pada proyek di Maluku Utara saja. Kenalilah model bisnis dari negara luar," ujar Abdul Gani.

Pasalnya, potensi Maluku Utara masih cukup besar terutama di sektor kelautan, di mana 73% wilayah Maluku Utara adalah laut sehingga potensi ekonomi dari kelautan dan perikanan masih sangat besar.

Sementara, usai menutup rangkaian The 1st North Maluku International Business Forum secara resmi pada, Senin (17/4/2017) malam.

Tag : pelabuhan
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top