Investor Amerika Serikat Masih Minati Investasi Panas Bumi

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan menilai investasi panas bumi masih menarik bagi investor, khususnya investor asal Amerika Serikat.
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 22 April 2017  |  19:35 WIB
Menteri ESDM Ignasius Jonan saat kunjungi Bisnis Indonesia, Senin (3/04) - Annisa Lestari Ciptaningtyas

Bisnis.com, JAKARTA--Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan menilai investasi panas bumi masih menarik bagi investor, khususnya investor asal Amerika Serikat.

Dengan adanya penandatanganan kesepakatan bisnis PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) dengan Halliburton, dia menyebut hal itu tak saja mempererat hubungan kerja sama antara Indonesia dengan Amerika Serikat. Melainkan, menjadi bukti bahwa investasi sektor panas bumi masih menarik.

PT PLN dan Halliburton sepakat akan mengembangkan wilayah kerja panas bumi milik PLN termasuk potensi investasi dari Amerika Serikat. Sebelumnya, pada Februari lalu, kedua perusahaan ini juga telah menandatangani kontrak senilai US$ 34 juta untuk pengeboran sumur panas bumi di Tulehu, Ambon, Maluku Utara, serta menyusun strategi jangka panjang untuk pengembangan Panas Bumi di Indonesia.

"Ini juga menjadi bukti bahwa investasi di sektor energi baru terbarukan diminati investor," ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima Bisnis, Sabtu (22/4/2017).

Investasi di bidang energi baru terbarukan pada 2017 ditargetkan meningkat sebesar 13% menjadi US$1,56 miliar dibandingkan tahun ini yang sebesar US$1,37 miliar. Angka target tersebut setara dengan Rp21 triliun dengan asumsi kurs Rp13.500 per Dollar.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) investasi energi baru terbarukan pada tahun depan akan lebih tinggi US$190 juta dibandingkan tahun ini.
Duta Besar Amerika untuk Indonesia, Joseph R. Donovan mengatakan kerja sama tersebut menunjukkan komitmen Amerika Serikat meningkatkan hubungan perdagangan dan investasi.

Dari data Investment Outlook Survei 2017 di laman resmi American Chamber Indonesia, 72% responden menilai keuntungan perusahaan akan meningkat di tahun ini, 18% menilai sama saja, 8% menganggap keuntungan justru menurun dan 2% lainnya menilai tak tahu.

Dari aspek kepuasan lingkungan bisnis, Indonesia masih butuh meningkatkan beberapa aspek seperti infrastruktur, regulasi, insentif bisnis, struktur pajak, kepabeanan, sokap proteksionis dan ketersediaan tenaga kerja lokal terlatih. Pasalnya, aspek tersebut memiliki tingkat kepuasan rendah yakni berkisar 3% hingga 8%.

Adapun, aspek dengan tingkat kepuasan tertinggi berkisar 35% sampai 45% yakni ketersediaan tenaga kerja murah, kestabilan sistem pemerintahan dan politik, keamanan dan sentimen terhadap Amerika Serikat.

"Kerja sama ini menunjukkan komitmen Amerika Serikat dalam meningkatkan hubungan perdagangan dan investasi serta meningkatkan posisi Amerika di Indonesia dalam bidang ekonomi," katanya.

Selain penandatangan tersebut, Menteri Jonan juga menyaksikan beberapa kesepakatan B-to-B bidang energi lainnya, yaitu:

  • Kerja sama PLN - PowerPhase untuk pemasangan TurboPhase booster system pada PLTG. Teknologi tersebut dapat mengurangi konsumsi bahan bakar, mengurangi emisi dan memperbesar output listrik yang dihasilkan.
  • Kerja sama PLN - Applied Material untuk memasang Fault Current Limiter yang dapat mengurangi Fault Current Levels di jaringan listrik Jawa Barat. Applied Materials berkeinginan untuk melakukan FS untuk teknologi ini pada gardu induk 500 Kv.
  • Kerja sama Greenbelt Resources dan Jababeka Infrastructure untuk pengembangan fasilitas waste to resource di Jababeka yang akan disebut JababECO.
  • Kerja sama NextGen dengan Pemerintah Samarinda untuk proyek low carbon waste-to-electricity.



Tag : panas bumi
Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top