Pedagang Pasar: Toko Tani Indonesia dan HortiMart Tak Efektif Pangkas Rantai Pasok

Kementerian Pertanian baru saja meresmikan Horti Mart yang berpusat di belakang Kantor Ditjen Hortikultura, Pasar Minggu, Jakarta. Horti Mart menjual komoditas hortikultura.
Azizah Nur Alfi
Azizah Nur Alfi - Bisnis.com 24 April 2017  |  17:57 WIB
Buruh angkut menggendong bawang putih kemasan karung di Pasar Legi, Solo, Selasa (18/4). - JIBI/Sunaryo Haryo Bayu

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah dinilai akan lebih efektif dalam memangkas rantai pasok bahan pangan apabila memfasilitasi petani memasarkan hasil pertanian langsung ke pasar tradisional

Ketua Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) Abdullah Mansuri mengatakan dalam proses jual beli, sedikitnya melalui lima mata rantai yakni petani, pengepul, pasar induk, dan pasar eceran.

"Lima rantai itu bisa dipangkas, jika kementerian mau memfasilitasi dari petani langsung ke pasar. Itu jauh lebih efektif," katanya saat dihubungi Bisnis, Senin (24/4/2017).

Dia mengkritisi langkah Kementerian Pertanian yang masuk dalam rantai distribusi produk hasil pertanian.

Dia menilai Kementan seharusnya fokus memastikan pasokan pangan aman dengan melakukan perencanaan produksi dan penyebarannya.

Abdullah melihat kehadiran Toko Tani Indonesia dan HortiMart dengan anggaran yang besar tak efektif memangkas jalur distribusi produk hortikultura. Ini terlihat dari kondisi Toko Tani Indonesia yang justru sepi pembeli.

Diketahui, Jumat (21/4) kemarin, Kementerian Pertanian baru saja meresmikan Horti Mart yang berpusat di belakang Kantor Ditjen Hortikultura, Pasar Minggu, Jakarta. Horti Mart menjual komoditas hortikultura.

Kehadiran HortiMart melengkapi kehadiran Toko Tani Indonesia yang lebih dulu diresmikan. Keduanya diharapkan dapat memangkas rantai pasok dan menstabilkan harga komoditas bahan pokok.

Soal rantai pasok yang bermasalah, pernah disampaikan Menteri Pertanian Amran Sulaiman ketika sidak ke tiga pasar tradisional pertengahan April kemarin. Dia menyebut harga bawang di Tulungagung Rp8.000 per kg di tingkat petani, padahal di tangan konsumen mencapai Rp30.000.

"Kementan seharusnya fokus menggenjot produksi sehingga pasokan dipastikan aman, dan mengetahui sebaran produksi," katanya.

Kritik serupa juga pernah disampaikan Guru Besar Institut Pertanian Bogor Muhammad Firdaus. Dia menilai upaya memangkas rantai pasok dapat dilakukan dengan memperbaiki kualitas melalui standardisasi produk pertanian.

Selain itu, dapat dilakukan dengan menghubungkan petani kepada pasar akhir, terutama pasar modern.

Tag : pertanian
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top