TREN MANUFAKTUR: Ini Cara Serikat Pekerja di Jerman Hadapi Industri 4.0

Departement Future of Work IG Metal Jerman Moritz Niehaus mengungkapkan industri 4.0 telah menjadikan proses produksi menuntut adanya smart factory dan smart products.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 26 April 2017  |  16:20 WIB
Manufaktur Jerman. - .Reuters

Bisnis.com, JAKARTA — Departement Future of Work IG Metal Jerman Moritz Niehaus mengungkapkan industri 4.0 telah menjadikan proses produksi menuntut adanya smart factory dan smart products.

Hal tersebut menurutnya melahirkan dua masalah baru yang dihadapi oleh tenaga kerja, tak terkecuali di Jerman. 

“Selain tuntutan keterampilan lebih, masalah lain yang muncul adalah soal jaminan sosial dan kecocokan model kerja dengan hukum yang berlaku,” ujar Moritz di Jakarta, Rabu (26/4/2017).

Moritz menjelaskan untuk menghadapi hal tersebut, pihak serikat pekerja menyiapkan sejumlah langkah. Salah satunya dengan menyiapkan regulasi ditingkat regional. 

Langkah tersebut, sambung Moritz, dilakukan dengan menggandeng akademisi, praktisi hukum, pekerja, dan pihak perusahaan. Selain itu, pihak serikat pekerja juga mendesak segera ditandatanganinya kesepakatan antara pekerja dan manajemen terkait implementasi industri 4.0 pada 2020 mendatang.

Dia menambahkan industri 4.0 bakal menciptakan lebih banyak hubungan kerja freelance dan alih daya. Menurutnya kondisi itu disebabkan karena adanya tren digitlisasi yang membuat pekerjaan bisa dilakukan melalui platform online.

Berdasarkan riset Frey and Osborne di Amerika Serikat ada sekitar 50% pekerjaan yang akan hilang akibat adanya otomatisasi,” jelas dia.

Seperti diketahui, IG Metal merupakan serikat pekerja di Jerman yang menaungi beberapa sektor pekerjaan antara lain pekerja elektronik, otomotif, dan tekstil. Tercatat organisasi itu memiliki 2.200.00 anggota.

Tag : industri, jerman, serikat pekerja
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top