Petani Plasma Pertanyakan Dana Replanting Dari Hasil Pungutan Ekspor CPO

Petani plasma kelapa sawit di Kabupaten Bangka Barat, Bangka Belitung, meminta kejelasan tentang bantuan peremajaan kebun (replanting) menggunakan hasil pungutan ekspor CPO.
Sri Mas Sari | 28 April 2017 01:00 WIB
ilustrasi replanting - Bisnis

Bisnis.com, BANGKA BARAT - Petani plasma kelapa sawit di Kabupaten Bangka Barat, Bangka Belitung, meminta kejelasan tentang bantuan peremajaan kebun (replanting) menggunakan hasil pungutan ekspor CPO.

Ketua KUD Bina Tani Sejahtera di Desa Tempilang, Kecamatan Tempilang, Leman Ani mengatakan petani-petani sawit yang tergabung dalam koperasi itu ingin mengetahui teknis pelaksanaan Peraturan Menteri Pertanian No 18/Permentan/KB.330/5/2016 tentang Pedoman Peremajaan Perkebunan Kelapa Sawit.

"Kami juga ingin mendengar secara langsung peraturan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP Sawit), terutama tentang persyaratan dan kelengkapan dokumen untuk mendapatkan bantuan itu," katanya saat menerima kunjungan BPDP Sawit, Kamis (27/4/2017).

KUD Bina Tani Sejahtera, tutur Leman, menyampaikan permohonan bantuan replanting ke BPDP Sawit melalui dinas perkebunan setempat tiga pekan lalu. Namun, hingga kini belum ada tanggapan.

Wakil Ketua KUD Bina Tani Sejahtera Arizal Efendi menyampaikan koperasi mengajukan proposal bantuan replanting seluas 300 hektare. Adapun total luas kebun sawit milik 1.115 anggota mencapai 2.300 ha. Para anggota adalah petani plasma perusahaan perkebunan dan pengolahan kelapa sawit PT Sawitindo Kencana milik Grup Kencana.

Tanaman sawit yang hendak diremajakan oleh para petani itu berumur 20 tahun dan produktivitasnya sudah rendah, yakni hanya 10 ton per ha per tahun. Lahan kebun itu juga sudah disertifikasi sebagaimana disyaratkan oleh BPDP Sawit.

"Ini (penurunan produktivitas) penyebabnya mungkin kondisi tanah kita sudah mulai kritis. Kedua, kalau orang teknis, mungkin bilang jarak tanamnya terlalu rapat, Pak. Masih pola lama kan," ungkapnya.

Arizal mengatakan koperasi sejak lima tahun lalu menyiapkan dana replanting yang hingga kini terkumpul Rp10 miliar. Padahal, kebutuhan peremajaan tanaman berikut pupuk dua tahun ke depan sekitar Rp100 miliar.

"Nantinya, 50%-nya kami mengajukan ke BPDP. Kami hanya tersedia mungkin 20%, enggak salah juga kalau mungkin nanti 'bapak angkat' (PT Sawindo Kencana selaku perusahaan inti) nanti bantu yang 30%," ujarnya.

Adapun BPDP Sawit berencana meremajakan kebun sawit seluas 22.000 hektare tahun ini dengan mengalokasikan dana Rp550 miliar dari hasil pungutan ekspor CPO. Perhitungannya, setiap hektare kebun mendapat bantuan Rp25 juta (Bisnis.com, 26/4/2017).

Tag : cpo, pungutan ekspor
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top