Harga Daging Kerbau Impor Pukul Pejagal dan Peternak Sapi

Impor daging kerbau asal India yang dijual kepada konsumen dengan harga murah memukul aktivitas ekonomi para jagal dan peternak sapi. Jika kondisi ini terus dibiarkan, pelaku usaha peternakan sapi terancam mati.nn
Azizah Nur Alfi
Azizah Nur Alfi - Bisnis.com 28 April 2017  |  19:43 WIB
Ilustrasi - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA - Impor daging kerbau asal India yang dijual kepada konsumen dengan harga murah memukul aktivitas ekonomi para jagal dan peternak sapi. Jika kondisi ini terus dibiarkan, pelaku usaha peternakan sapi terancam mati.

Hal ini terungkap dalam forum diskusi publik bertema Kesejahteraan Peternak Sapi Lokal Menjelang Hari Raya, Milik Siapa? yang diselenggarakan Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi di Jakarta, Jumat (28/4/2017).

Diskusi melibatkan pimpinan komisi IV DPR Herman Khaeron, Ketua Komisi Pengawasan Persaingan Usaha Syarkawi Rauf, Direktur Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Fajar Sumping, Dekan Fakultas Peternakan UGM Ali Agus, perwakilan Rumah Pemotongan Hewan, perwakilan jagal, dan para peternak sapi.

Perwakilan Jagal di Jabodetabek Edy Wijayanto menyampaikan sudah setahun ini terjadi penurunan penjualan daging segar dari RPH Tapos Jawa Barat ke pedagang. "Pasokan sapi lokal lancar, tetapi ke pedagang daging agak seret," katanya.

Dulu, RPH dapat memotong 5-6 ekor sapi tiap harinya, maka sejak enam bulan terakhir menurun menjadi 4 ekor sapi tiap harinya. "Saat ini tersisa satu ekor sapi tiap harinya," imbuhnya.

Edy melihat penjualan yang menurun sebagai imbas derasnya daging kerbau asal India. Apalagi setelah pemerintah menetapkan HET daging beku Rp80.000 per kg. Pedagang eceran lebih memilih daging kerbau asal India karena relatif murah. "Karena permintaan pasar terutama dari katering, bakso, dan industri olahan. Sementara konsumsi rumah tangga relatif stabil," katanya.

Edy menyebut RPH Tapos mendapat pasokan sapi dari NTT, Bali, Jateng, dan Jatim. "Dari Bali biasanya 14 ekor setiap kali pengiriman tahun lalu. Ini akan terpotong dalam waktu 3-4 hari. Sekarang, baru bisa habis dalam waktu 10 hari," imbuhnya.

Perwakilan pedagang sapi lokal antar pulau Toto Suwoto menyebut peternak sapi kini tengah kritis. Dia menyampaikan peternak membeli sapi bobot 300 kg seharga Rp50.000 per kg hidup. Setelah digemukkan dan siap panen pada bobot 500 kg, dijual seharga Rp42.000 per kg hidup di tingkat peternak. Dengan harga ini, sapi lokal sangat sulit dijual ke pasar.

"Sapi tidak terserap oleh pasar. Penjualan menurun drastis. Jika dulu mampu memotong 100 ekor sapi per bulan, saat ini hanya 25 ekor sapi per bulan," imbuhnya.

Tag : peternakan
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top