Pengusaha Dorong Pemerintah Antisipasi Kemacetan Angkutan Barang

Pelaku usaha jasa logistik mengimbau pemerintah untuk mengambil strategi lain sebagai alternative mengatasi peningkatan volume angkutan barang dan kemacetan saat masa Lebaran.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 14 Mei 2017  |  18:11 WIB
Truk antre di Pelabuhan Merak, Banten - Antara/Asep Fathulrahman

Bisnis.com, JAKARTA – Pelaku usaha jasa logistik mengimbau pemerintah untuk mengambil strategi lain sebagai alternatif mengatasi peningkatan volume angkutan barang dan kemacetan saat masa Lebaran.

Kyatmaja Lookman, Wakil Ketua DPP Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) mengatakan biasanya jelang Lebaran ada antrean panjang menuju pelabuhan. Saat itulah pemerintah biasanya melakukan pelarangan angkutan truk.

“Ganjil-genap berlaku dalam H-4 sampai H+3 Lebaran, itu terjadi saat arus mudik, sedangkan proyek semua sedang berjalan seperti LRT [light rapid transit], Cikampek Elevated, dan lainnya,” ungkap Kyatmaja menuturkan sejumlah faktor kemacetan di darat, Minggu (14/5/2017).

Dia menilai, pemerintah belum secara matang menyiapkan strategi selain pembukaan tol pelabuhan laut yang belum ada dampak secara signifikan. Diusulkan seharusnya pemerintah membereskan masalah kemacetan secara online misalnya mempercepat arus barang dengan sistem online. Bahkan, jika kemacetan di sekitar Cikunir masih terjadi maka sebaiknya tarif tol digratiskan saja.

“Mengurai kemacetan PR besar nih di gerbang Tol Cikunir dan masalah untuk kemacetan di sekitar cacing. Belum lagi depo-depo menyebabkan simpul antrian juga, harus diurai simpul-simpul kemacetannya,” jelasnya.

Menurutnya, strategi ganjil-genap hanya efektif bagi kendaraan pribadi bukan angkutan barang. Kyatmaja juga memprediksi ada kenaikan volume barang selama Lebaran sampai 30% dimulai jelang Lebaran sampai ada larangan angkutan barang.

“Biasanya karena ada larangan maka volume jadi naik drastis,” ungkapnya.

Sementara itu, Zaldy Ilham Masita, Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) mengatakan umumnya pada Lebaran terjadi kenaikan volume angkutan barang sebanyak 30% dari hari biasa.

Oleh sebab itu, dia mengimbau kepada pemerintah untuk memberikan aturan pembatasan kendaraan dari tiga bulan sebelumnya agar tidak mengganggu buffer stock.

“Satu bulan sebelum lebaran itu biasanya sudah mulai peak season untuk logistik,” jelas Zaldy saat dihubungi Bisnis, Selasa (4/4/2017).

Dia menilai aturan pembatasan truk sesungguhnya bukan masalah karena tidak berpengaruh pada kenaikan volume barang. Hal ini dikarenakan pengiriman barang biasanya tidak hanya mengandalkan truk tetapi juga kereta api dan juga kapal laut.

“Makin cepat diumumkan [aturan pembatasan truk] sebenarnya makin bagus jadi bisa mengatur stok di daerah-daerah,” ungkapnya.

Saat ini, Kementerian Perhubungan berencana membatasi angkutan barang truk pengangkut bahan-bahan galian atau tambang hingga 16 hari pada masa angkutan lebaran 2017, tepatnya pada pada H-7 sampai dengan H+7 lebaran.

Sementara, truk dengan jumlah berat yang diizinkan 14 ton lebih dan truk dengan 3 sumbu atau lebih berencana dibatasi selama 9 hari.

Tag : Angkutan Barang
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top