Jabar Fokus Garap Kopi Organik

Guna merebut pangsa pasar kopi organik dunia, Dinas Perkebunan Jawa Barat (Jabar) dalam lima tahun terakhir ini fokus mendorong petani agar mengembangkan budidaya kopi organik. Selain itu, memberi 10 juta benih kopi kepada seluruh petani.
Herdi Ardia | 14 Mei 2017 19:27 WIB
Panen kopi robusta, di Talang Padang, Lampung. - Bloomberg/Dimas Ardian

Bisnis.com, BANDUNG - Guna merebut pangsa pasar kopi organik dunia, Dinas Perkebunan Jawa Barat (Jabar) dalam lima tahun terakhir ini fokus mendorong petani agar mengembangkan budidaya kopi organik. Selain itu, memberi 10 juta benih kopi kepada seluruh petani.

Kepala Dinas Perkebunan Jabar Arief Santosa mengungkapkan, meningkatnya permintaan pasar baik dalam dan luar negeri terhadap kopi organik telah mendorongnya untuk membuat program pilot project kopi organik seluas 7 hektare di lima kabupaten penghasil kopi di Jabar.

"Greget pemerintah pada kopi itu dalam lima tahun terakhir. Pada 2016 yang diinisiasi sepenuhnya hanya fokus pada organik. Kalau dianggap berhasil akan terus kami kembangkan," katanya, kepada wartawan, Minggu (14/5/2017).

Menurutnya, dalam mengembangkan kopi organik tidaklah semudah kopi konvensional. Pasalnya, dibutuhkan konsistensi petani yang telah mendapatkan pembinaan dan pelatihan tentang pengelolaan kebun kopi organik.

Untuk itu, tugas yang tak kalah penting adalah mendampingi dan mengawasi mereka agar bertahan di organik.

Selain itu, pelaku pasar yang masih ada tidak mengharga organik. Padahal effortnya lebih sulit ketimbang kopi biasa. Pembeli yang kurang memahami kopi organik ini adalah pembeli dalam negeri.

"Kalau pembeli dari luar mereka bisa menghargai asalkan dicantumkan itu organik dan mendapatkan sertifikasi dari lembaga sertifikasi organik," ucapnya.

Potensi Ekspor

Potensi ekspor kopi Jabar masih sangat besar yang diperkirakan pada 2017 menyerap sebesar 20% dan pada 2020 diperkirakan ada defisit sedikitnya 10 juta karung kopi ukuran 60 kg di seluruh dunia atau setara dengan 600.000 volume kopi. Sementara, hingga 2020 permintaan kopi diprediksi mengalami peningkatan sebesar 2,5% setiap tahunnya.

Produksi kopi Indonesia pada 2016 mencapai 650.000 ton dan ekspornya baru 400.000 ton dengan nilai US$1,36 juta. Peluang terbuka lebar, 2020 bisa jadi momentum kopi Jabar untuk bisa memasuki dan berhasil dalam kancah nasional.

Moeljono Soesilo Manager Marketing Taman Delta Indonesia menambahkan, pertumbuhan konsumsi kopi setiap tahun sebesar 1,5-2%. Peningkatan terbesar terjadi di negara berkembang dan negara penghasil kopi.

"Kalau negara tradisional peminum kopi adalah Amerika Serikat, Jepang, Skandinavia dan Eropa Barat mencapai 40%," ucapnya.

Kondisi bisnis kopi di Indonesia juga terus mengalami pertumbuhan positif sebesar 5-6% per tahun atau 15.000 ton dengan tingkat Konsumsi kopi pada 2016 sekitar 5 juta karung atau 300.000 ton

"Masalahnya, tingkat kenaikan produksi hanya 1-2% atau setara 6.000-12.000 ton. Dengan jumlah keluarga petani kopi di Indonesia 1 juta," ucapnya.

Menurutnya, peningkatan konsumsi kopi di Indonesia karena banyaknya generasi muda yang selalu ingin mencoba yang baru dan western, kemakmuran yang meningkat, mayoritas penduduk muslim, perkembangan teknologi dan pesatnya perkembangan bisnis hotel, restoran dan kafe.

"Potensi kopi robusta di dalam negeri 5.000-6.000 ton dan Arabica 1.200-1.500 ton," paparnya.

 

Tag : kopi
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top