Importasi Bawang Putih, Ini Pandangan GINSI

GINSI menyoroti kebijakan Kementerian Pertanian terkait dengan pengetatan tata niaga dan importasi bawang putih, sebab kebijakan itu dinilai hanya efektif untuk jangka pendek.
Akhmad Mabrori
Akhmad Mabrori - Bisnis.com 15 Mei 2017  |  20:28 WIB
Pedagang menata bawang putih impor di pasar kota, Lhokseumawe, Aceh, Jumat (12/5). - Antara/Rahmad

Bisnis.com, JAKARTA - Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) menyoroti kebijakan Kementerian Pertanian terkait dengan pengetatan tata niaga dan importasi bawang putih, sebab kebijakan itu dinilai hanya efektif untuk jangka pendek.

Sekjen Badan Pengurus Pusat (BPP) GINSI Erwin Taufan mengatakan sebelum kebijakan tersebut dilakukan, seharusnya pemerintah memberi dorongan berupa bantuan kepada petani bawang putih dengan memberikan modal untuk lebih banyak lagi menaman komoditas itu di daerah-daerah yang potensial.

“Kemetan harus buat banyak infrastruktur dalam hal ini rigasi dan fokus di situ, karen tanaman bawang putih rentan kekurangan air. Peran dari pemda dan pemerintah pusat harus dirasakan langsung oleh petani, bukan bersifat pencitraan saja,” ujarnya menyikapi adanya kebijakan pengetatan tata niaga dan importasi bawang putih, di Jakarta, Senin (15/5/2017).

Taufan mengatakan pemerintah seharusnya membuat regulasi yang sifatnya tidak hanya sesaat atau jangka pendek untuk menekan harga komoditi itu didalam negeri, seperti memberlakukan para importir harus mendapatkan rekomendasi dari Kementan sebelum mengantongi izin impor bawang putih.

“Itu (kebijakan) hanya bagus untuk jangka pendek, yang kami nilai hanya supaya dilihat oleh masyarakat bahwa pemerintah ini ada action-nya. Padahal intinya tidak itu, sebab harga yang di patok pemerintah Rp38.000/kg itu memang ke depan harga yang dipasar memang segitu. Jadi nantinya hanya pemain yangg besar yang bisa impor. Padahal untuk bawang putih ini kita sangat kurang,” paparnya.

Dia mengatakan terkait dengan masih tingginya harga bawang putih, terdapat dua alasan yang terjadi di lapangan, yakni dikarenakan panen komoditas itu di China terlambat, serta adanya mafia yang membeli ke petani di China dengan jumlah besar bahkan gudang (cold storage) mereka mampu menampung hingga 500.000 ton per gudang.

“Kondisi seperti ini terjadi sejak 2013. Bahkan ada anggota GINSI yang membeli bawang putih dari Cina dengan posisi harga sekarang US$1.800/ton. Tetapi dalam 2 pekan ke depan harga turun hingga US$1.500-US$1.200/ton. Nantinya sebelum Lebaran modal cuma Rp19.000/kg. Kalau sekarang modal Rp38.000-Rp39.000/kg, lalu dijual ke pasaran sekitar Rp50.000/kg,” paparnya.

Taufan juga mengatakan saat ini terdapat lima negara penghasil bawang putih dari hasil pertaniannya, yakni China, Thailand, India, Vietnam, dan Mynmar. “Indonesia tidak termasuk. Bahkan di Thailand, tentaranya turut disiagakan untuk menyiram lahan pertanian yang tidak bisa dicapai irigasi,” ujarnya.

Jadi, kata Taufan, mengenai adanya kebijakan pengetatan tata niaga importasi bawang putih oleh Kementan, GINSI menilai bahwa hal itu hanya meunjukkan kegamangan pemerintah dalam memastikan ketersediaan komoditas tersebut terutama saaat Ramadan dan Lebaran.

Tag : Bawang Putih, ginsi
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top