Grab Investasi US$100 Juta Untuk Teknologi R&D

Layanan transportasi berbasis aplikasi asal Singapura Grab telah menggelontorkan dana investasi khusus di bidang teknologi sebesar US$100 juta dari total investasi sebesar US$700 juta untuk membangun pusat riset dan pengembangan (R&D) di Indonesia.
Sholahuddin Al Ayyubi | 19 Mei 2017 01:38 WIB
Grab Bike - Reuters/Iqro Rinaldi

Bisnis.com, JAKARTA - Layanan transportasi berbasis aplikasi asal Singapura Grab telah menggelontorkan dana investasi khusus di bidang teknologi sebesar US$100 juta dari total investasi sebesar US$700 juta untuk membangun pusat riset dan pengembangan (R&D) di Indonesia.

Anthony Tan, Co-Founder Grab mengemukakan pihaknya telah menggandeng platform Kudo sebagai salah satu mitra dalam mengembangkan R&D Grab yang memiliki kearifan lokal dan berlokasi di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Menurutnya, R&D tersebut akan melengkapi jumlah R&D Grab yang ada di sejumlah negara seperti di antaranya di Bangalore, Beijing, Ho Chi Minh City, Seattle dan Singapura.

“Sebagai perusahaan teknologi global, tidak sebatas modal, kami juga memiliki tanggung jawab untuk berbagi keterampilan teknologi terdepan dan membentuk talenta engineering lokal yang mumpuni, yang kemudian akan menciptakan jutaan wirausahawan mikro,” tuturnya di sela-sela acara MasterPlan Grab 4 Indonesia di Jakarta pada Kamis (18/5/2017).

Dia juga menjelaskan Grab tengah berencana untuk melahirkan 5 juta wirausawahan mikro hingga 2018 di Indonesia. Dia juga mengatakan akan meningkatkan jumlah tenaga kerja Indonesia dalam sektor teknologi menjadi ratusan orang pada R&D Grab hingga akhir tahun ini.

“Pusat R&D Jakarta akan menampung lebih dari 200 engineer pada akhir 2017 dan mengembangkan lahan yang tengah ditempati Kudo untuk membangun komplek seluas 4.500 meter persegi,” ucap Anthony.

Sementara itu, Managing Director Grab Indonesia, Ridzki Kramadibrata mengakui selama ini Grab Indonesia telah didukung oleh pemerintah dalam mengembangkan usahanya di Indonesia. Dia optimistis ke depan Indonesia dapat menjadi negara dengan ekonomi digital terbesar di wilayah Asia Tenggara.

“Kami berkomitmen untuk mengambil bagian dalam upaya ini dengan membangun kapabilitas teknologi yang nyata di Indonesia. Inovasi-inovasi untuk perusahaan teknologi global dapat dikembangkan dan dimulai  dari Indonesia,” tutur Ridzki.

Secara terpisah, CEO dan Co-Founder Kudo, Albert Lucius menjelaskan kerja sama yang dilakukannya bersama Grab di antaranya menciptakan modul onboarding di aplikasi Kudo, di mana 400.000 agen resmi Kudo telah mulai menggunakan layanan mitra pengemudi dalam aplikasi Grab.

Dia optimistis kerja sama tersebut dapat mendukung ekspansi massal basis mitra pengemudi Grab dan pengemudi Grab juga akan memperoleh sumber pendapatan baru melalui aplikasi Kudo dengan menjadi agen dan menjual barang-barang secara online kepada konsumen.

“Bekerja sama dengan Grab tepat seperti yang kami harapkan sebagai pendiri start-up Indonesia. Kami telah bermitra dengan perusahaan yang memiliki semangat yang sama dalam membantu masyarakat Indonesia agar dapat menikmati manfaat dari ekonomi digital melalui inovasi-inovasi yang dihadirkan di Indonesia,” ujar Albert.

Sementara itu, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara berpandangan untuk mewujudkan visi Indonesia Digital Economy 2020, masyarakat dan sektor swasta diminta untuk bekerja sama. Menurutnya, kolaborasi Grab dengan start-up lokal Kudo untuk membangun pusat R&D di Jakarta dapat mendorong kemajuan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat Indonesia.

“Ini merupakan contoh yang patut kita tiru. Pengembangan R&D di Jakarta oleh Grab merupakan contoh nyata bahwa tenaga engineer di Indonesia merupakan tenaga yang unggul dan dapat berperan untuk menjadikan Indonesia sebagai pemain utama di area teknologi informasi di Asia Tenggara,” ujarnya.

Tag : ojek online
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top