Pebisnis Keluhkan Kenaikan Impor Baja

Industri baja nasional menuntut pemerintah melahirkan solusi untuk menyudahi ketimpangan perdagangan ekspor-impor yang selama ini terjadi. Industri baja diyakini sulit tumbuh sesuai harapan pemerintah jika impor tidak dikendalikan.
Dara Aziliya
Dara Aziliya - Bisnis.com 23 Mei 2017  |  17:07 WIB
Pabrik baja di Jiaxing, Provinsi Zhejiang, China - Reuters/William Hong

Bisnis.com, JAKARTA—Industri baja nasional menuntut pemerintah melahirkan solusi untuk menyudahi ketimpangan perdagangan ekspor-impor yang selama ini terjadi. Industri baja diyakini sulit tumbuh sesuai harapan pemerintah jika impor tidak dikendalikan.

Saat ini, pemain baja pelat merah yaitu PT Krakatau Steel Tbk sedang membangun pabrik baja terintegrasi dengan kapasitas akumulatif 10 juta ton pada tahun 2025. Pabrik senilai US$3,6 miliar tersebut dibangun oleh PT Krakatau Posco, perusahaan patungan antara Krakatau Steel dan produsen baja terbesar asal Korea Selatan, Posco.

Direktur Utama Krakatau Steel Mas Wigrantoro Roes Setyadi menyampaikan struktur biaya industri baja di dalam negeri sebenarnya sama dengan negara produsen baja terbesar dunia, China. Kendati demikian, di negara itu, fasilitas industri memungkinkan mereka dapat menjual produknya dengan sangat murah.

“Di sana mereka tidak perlu bayar tanah, harga gas murah, dan dapat insentif dari pemerintah. Di sini, kami harus mengikuti mekanisme pasar terbuka. Kalau sistem perdagangannya lebih fair, industri baja nasional bisa lebih kompetitif,” jelas Wigrantoro di Jakarta, Selasa (23/5/2017).

Industri baja nasional menyebut tekanan pada industri baja nasional terjadi karena produk baja impor masuk ke pasar Indonesia dengan cara-cara menyimpang, salah satunya dengan penyalahgunaan pos tarif baja paduan.

Meski belum menghimpun data resmi, dia memprediksi impor baja pada semester pertama tahun ini masih akan tetap tinggi. Wigrantoro menyebut baja yang diimpor seharusnya dapat dipenuhi oleh industri dalam negeri karena merupakan baja karbon yang kegunaannya hanya untuk konstruksi umum.

“Penyalahgunaan kategori baja paduan tersebut hanya bertujuan mengalihkan pos tarif dari baja karbon menjadi baja paduan demi menghindari bea masuk maupun trade remedies,” jelas Wigrantoro.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan impor tiga jenis baja utama, yaitu hot rolled coil (HRC), cold rolled coil (CRC), dan wire rod konsisten naik sejak 2011. Impor baja jenis CRC bahkan naik 54% dalam 5 tahun terakhir.

Tag : industri baja
Editor : Ratna Ariyanti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top