Perusahaan Tebu Pertama Di Lahan Rawa Pertama Diresmikan

- PT Pratama Nusantara Sakti, perusahaan perkebunan tebu pertama di Indonesia yang memanfaatkan lahan rawa, diresmikan langsung dengan peletakan batu pertama dan panen tebu oleh Menteri Pertanian RI Arman Sulaiman, Senin (22/5/2017).
Eva Pardiana (k21) | 23 Mei 2017 19:38 WIB
Menteri Pertanian Amran Sulaiman (tengah) di tengah prosesi peresmian PT Pratama Nusantara Sakti, perusahaan perkebunan tebu pertama di Indonesia yang memanfaatkan lahan rawa pada Senin (22/5/2017)/Bisnis - K21

Bisnis.com, Ogan Komering Ilir - PT Pratama Nusantara Sakti, perusahaan perkebunan tebu pertama di Indonesia yang memanfaatkan lahan rawa, diresmikan langsung dengan peletakan batu pertama dan panen tebu oleh Menteri Pertanian RI Arman Sulaiman, Senin (22/5/2017).

Pabrik gula berkapasitas 6.000 ton tebu per hari sekaligus menyiapkan kebun di lahan rawa yang berlokasi di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatra Selatan. Perusahaan perkebunan yang merupakan gabungan tiga grup raksasa yaitu Wings Group, CP Prima dan Djarum sejak tahun 2009 tersebut akan menggarap lahan rawa seluas 30.000 hektare untuk tanaman tebu. Budi daya tebu di lahan rawa tersebut pertama kali diterapkan di Tanah Air dan kedua di dunia setelah Guyana, Amerika Selatan.

Komisaris Pratama Nusantara Sakti Yohanes Hardian Widjanarko menyampaikan, budi daya tebu di lahan rawa memang cenderung lebih kompleks dan memiliki lebih banyak tantangan. Namun, ia menjelaskan, produktivitas tebu rawa cukup menjanjikan pernah mencapai 125ribu ton gula per ha.

“Tantangan itu dapat ditangani dengan teknologi dan misi kerja yang kuat dari perusahaan. Memang di Kabupaten OKI itu agak tinggi curah hujannya, maka mekanisasi untuk mengolahlahan rawa ini memang harus ekstra tahap awal sebagai penyesuaian,” kata Yohanes.

Selanjutnya, untuk hak guna usaha (HGU) yang diperoleh Pratama Nusantara merupakan lahan rawa dengan karakter mengandung lebih banyak air. Untuk panen tebu dengan gunakan air bisa menekan biaya produksi sampai 40%. "Untuk angkutan darat daya angkut hanya 8 ton, tetapi kalau di air daya angkut bisa mencapai 300 ton hanya dengan satu kapal speedboat, tentunya dapat lebih menekan biaya logistik,"jelasnya.

Dalam jangka panjang, sejalan dengan pembangunan pabrik gula juga akan dibangun pelabuhan yang akan selesai bersamaan ditahun 2019. Luas pelabuhan ada 5 hektar, yang jaraknya tidak terlalu jauh dari pabrik. "Dengan adanya pelabuhan tentunya akan menekan biaya logistik, distribusi pengiriman langsung ke wilayah Jawa dan sekitarnya," paparnya.

Didampingi jajaran Direksi lainnya, Isman Haryanto dan Deni Gunawan Direktur Pratama Nusantara Sakti mengatakan untuk proses produksinya, dengan mengaplikasikan cara tanam guludan atau membentuk tumpukan-tumpukan tanah.

Pratama Nusantara Sakti berencana membangun pabrik gula dengan kapasitas 6.000 ton tebu per hari (ton cane per day /TCD) pada 2019, yang kapasitasnya akan terus ditingkatkan menjadi 18.000 TCD seiring dengan perluasan penanaman kebun inti maupun plasma dalam jangka waktu tiga tahun berikutnya.

Untuk investasi membangun pabrik gula, Pratama Nusantara menggelontorkan dana hingga Rp 4 triliun yang akan dibagi tiga tahap sampai tahun 2020. Selain memproduksi gula, Pratama Nusantara juga memproduksi pembangkit listrik biomassa hingga 10 megawatt dengan memanfaatkan limbah tebu. Isman menambahkan, saat ini perusahaan masih menyiapkan tanaman tebu untuk bahan baku.

Untuk tahun 2017, luasan target yang akan ditanam yaitu 8.700 ha. Saat beroperasi pada 2019, ditargetkan luasan tanaman tebu yang dipasok ke pabrik mencapai 11.000 ha. “Penanaman tebu ini bertahap. Sekarang 8.700 ha dulu target hingga 2017, tidak bisa langsung seluruhnya. Pada 2019 nanti kurang lebih 21.000 ha ditanami. Izin lokasi kami 30.000 ha, dan akan ditanami secara bertahap selama tiga tahun setelah 2019,"jelasnya.

Isman menjelaskan, dari 30.000 HGU yang dimiliki perusahaan, sekitar 20% akan dibentuk perkebunan plasma yang akan dikelola masyarakat sekitar. Perusahaan juga akan mengalokasikan lahan untuk infrastruktur pendukung seperti jalan dan sumber air. Menurutnya, total lahan yang dapat ditanami tebu yaitu sampai 21.000 ha.

Dari 30.000 HGU yang dimiliki perusahaan, sekitar 20% akan dibentuk perkebunan plasma yang akan dikelola masyarakat sekitar. Perusahaan juga akan mengalokasikan lahan untuk infrastruktur pendukung seperti jalan dan sumber air. Menurutnya, total lahan yang dapat ditanami tebu yaitu 20.000 ha.

"Target bisa menyokong 5% menuju swasembada kebutuhan gula nasional yang mencapai 6 juta ton per tahun baik gula putih atau rafinasi,"ujar Isman. Dari tingkat kualitas sama yang membedakan hanya produksi dan rendemen sampai 8 persen di produksi daerah rawa.

Dalam hal ini dengan kedatangan langsung Menteri Pertanian RI, Pratama Nusantara Sakti juga mengajak bagi para pengusaha yang ingin membuka pabrik gula bisa manfaatkan daerah rawa. "Karena kalau daerah Jawa, lahan sudah sedikit dan biaya logistik darat yang tinggi karena kapasitas pengangkutan terbatas,"jelas Isman.

Untuk daerah daratan Jawa produksi gula hanya 50.000 ton, Lampung 70.000 ton, sedangkan daerah rawa produksi Pratama Nusantara Sakti lebih besar bisa mencapai 125.000 ton.

Menteri Pertanian RI Arman Sulaiman mengatakan, "Masa depan pergulaan Indonesia saat ini ada di rawa, investasi pertama pembawa perubahan PT Pratama Nusantara Sakti berhasil membuktikan produksi gula dilahan rawa bahkan dengan biaya produksi yang lebih rendah,"ujar Amran.

Untuk kebutuhan Gula Putih saat ini 2,8 juta ton, produksi saat ini sudah mencapai 2,5 juta ton. Tahun ini ada 11 perusahaan gula yang akan dibangun, 4 sudah selesai pastinya akan menambah produksi gula nasional. Ditambah peluang produksi gula di wilayah rawa Indonesia yang mencapai 21 juta hektar. Maksimalkan saja lahan 1 juta hektar rawa, Indonesia sudah bisa swasembada gula.

"Untuk pabrik gula Pratama Nusantara Sakti saya targetkan bisa selesai 1 November 2018, sdm ditambah dan jam operasional ditambah 24 jam. Semakin cepat semakin baik berperan untuk swasembada gula Indonesia,"ujarnya.

Apalagi sekarang Presiden minta untuk swasta berperan membangun daerah-daerah pinggir. Kalau ada pabrik gula di situ, daerah itu akan berkembang. Dia menjelaskan, dengan adanya investor untuk investasi di wilayah rawa, kelak mereka akan membangun pelabuhan dan meningkatkan konektivitas melalui pembangunan jalan-jalan baru sekitarnya.

"Saat ini sejumlah investor harus sangat serius mencari lahan-lahan untuk mengembangkan tebu, bahkan tidak mempermasalahkan jika HGU dalam bentuk lahan rawa yang pengelolaannya lebih kompleks, pastinya pemerintah akan permudah investor gula khususnya yang memang fokus mau menggarap lahan rawa untuk pabrik gula,"harapnya.

Tag : gula
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top