Pabrikan Ban Tetap Waspadai Impor

Produsen ban lokal tetap mewaspadai impor dari China kendati pemerintah telah menerbitkan beleid mengenai penertiban ban impor.
Regi Yanuar Widhia Dinnata
Regi Yanuar Widhia Dinnata - Bisnis.com 30 Mei 2017  |  21:27 WIB
Ilustrasi

JAKARTA—Produsen ban lokal tetap mewaspadai impor dari China kendati pemerintah telah menerbitkan beleid mengenai penertiban ban impor.

"Saat ini yang perlu diperhatikan adalah harga ban impor China begitu kompetitif dengan produk lokal dan impor dalam jumlah besar," ujar Azis Pane, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Ban Indonesia (APBI) kepada Bisnis, Selasa (30/5).

Ban asal China memiliki harga yang bersaing karena biaya produksi lebih rendah dibandingkan dengan produsen lokal. Ini terjadi karena industri ban di China telah terintegrasi dari hulu sampai hilir. Produsen ban di China juga tidak bergantung pada pasokan bahan baku utama, seperti karet.

Berbeda dengan China, produsen di Indonesia sangat terpengaruh dengan harga karet domestik. Padahal harga karet lokal sangat fluktuatif. Tidak hanya itu, industri hulu dari produksi ban juga masih bergantung pada impor bahan baku. "Jika dalam segi harga ban asal China diakui murah, tetapi untuk kualitas produsen dalam negeri tidak kalah bersaing," klaim Azis.

Permendag Nomor 77 Tahun 2016 diakui oleh Azis memiliki niat yang baik demi membantu industri dalam negeri khususnya produsen ban. Hanya saja, beleid ini berdampak pada berkurangnya pasokan ban, terutama untuk sektor pertambangan, perkebunan, pelabuhan, dan logistik. Pelaku bisnis sektor tersebut mengaku mengalami kesulitan untuk mencari ban berdiameter besar yang khusus dipergunakan untuk kendaraan bermuatan berat. Pasokan ban untuk kendaraan bermuatan berat ini hanya berasal dari impor.

Azis menambahkan sebenarnya produsen dalam negeri mampu memproduksi ban sesuai kebutuhan industri tersebut. Mengingat kapasitas terpasang bisa mencapai 85 juta per tahun dengan nilai produksi rata-rata 51 juta—53 juta per tahun.

"Ban impor masih bisa didapat, tetapi harus sesuai dengan kebijakan yang berlaku. Sekarang masalahnya kebanyakan industri strategis, seperti sektor pertambangan memiliki mindset jika beli ban harus impor. Padahal produsen ban dalam negeri sebenarnya sudah bisa membuat ban untuk kendaraan bermuatan berat, tetapi belum semua tipe," ungkapnya.

Tag : industri ban
Editor : Ratna Ariyanti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top