Investor Lirik Peluang Investasi Petrokimia Berbasis Gas

Sejumlah investor asing tengah menjajaki peluang investasi pembangunan pabrik petrokimia berbasis gas di Banggai, Sulawesi Tengah dan Bintuni, Papua Barat.
N. Nuriman Jayabuana
N. Nuriman Jayabuana - Bisnis.com 13 Juni 2017  |  16:25 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—Sejumlah investor asing tengah menjajaki peluang investasi pembangunan pabrik petrokimia berbasis gas di Banggai, Sulawesi Tengah dan Bintuni, Papua Barat.

Sekjen Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik (Inaplas) Fajar Budiyono menyatakan investor asing menunggu kepastian pasokan gas yang bisa didapatkan.

“Salah satu yang hampir pasti ya dari Jerman, Ferrostaal. Beberapa lagi yang dulu menyatakan mundur dari Thailand, Saudi, China, dan Jepang akan kembali penjajakan ulang tahun ini. Mudah mudahan minimal satu jadi realisasi karena mereka mau lihat dulu kepastian pasokan gas,” ujar Fajar kepada Bisnis, Selasa (13/6/2017).

Menurutnya, calon investor melihat tiga lapangan gas di Masela, Bintuni, dan Banggai sebagai tujuan investasi yang menarik. “Dan mereka mau coba garap petrokimia berbasis gas di ketiga daerah itu, tetapi memang sampai sekarang semuanya masih di tahap feasibility study,” ujar dia.

Fajar menyatakan investor melihat peluang investasi petrokimia berbasis gas di Indonesia sebagai kesempatan yang menarik. Sebab permintaan domestik terhadap produk polimer dan monomer masih bergantung pada impor. Pabrikan petrokimia saat ini belum mampu memasok seluruh permintaan domestik yang mencapai 5,6 juta ton per tahun. Indonesia juga belum memiliki basis produksi petrokimia penghasil polimer dan monomer berbasis gas. Pabrikan petrokimia hulu penghasil produk polimer dan monomer eksisting masih sepenuhnya bergantung kepada bahan baku nafta. “Kalau di Petrokimia yang sudah mulai berbasis gas baru sekadar yang produksi pupuk.”

Sebelumnya, Kementerian Perindustrian memastikan tiga perusahaan akan membangun pabrik petrokimia berbasis gas di Blok Masela, Provinsi Maluku. Harga gas yang ditawarkan sebesar US$5,86 per Mmbtu.

Dari data terakhir Kementerian Perindustrian, ketiga perusahaan tersebut adalah Pupuk Indonesia, Elsoro Multi Prima, dan Sojitz Indonesia. Total kebutuhan untuk ketiganya mencapai 474 MMscfd. Perinciannya adalah Pupuk Indonesia mendapat alokasi 214 MMscfd, Elsoro 160 MMscfd, dan Sojitz sebesar 100 MMscfd. 

Penggunaan gas dari Blok Masela untuk industri menjadi agenda rapat koordinasi yang digelar di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Senin (12/6). Rakor juga menyinggung mengenai penawaran harga gas sebesar US$5,86 per Mmbtu, di atas usulan industri yang meminta harga gas maksimal US$3,5 per Mmbtu. Kepastian harga gas menjadi hal yang dinanti pelaku industri untuk meneruskan rencana investasi di Blok Masela.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyebutkan pemerintah sejauh ini belum menyusun skema waktu untuk pendirian pabrik dari eksplorasi gas Masela. Nantinya, lokasi pabrik akan menyesuaikan dengan delivery point di kompleks tersebut.

“Kalau bicara mengenai gas dari Masela untuk industri, komitmen pembeli tentu tergantung pada harga. Baru nanti akan kami bicarakan PJBG [perjanjian jual beli gas],” jelas Airlangga seusai rakor.

Tag : industri petrokimia
Editor : Ratna Ariyanti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top